Kemana Harus Pergi Romo Waris

Sahabat, sudah beberapa kali masa liburan saya habiskan di rumah saja. Tidak ke mana-mana, kecuali bersama seluruh keluarga. Ada alasan logis, sekaligus sentimental di sana. Alasan logis, orangtua sudah semakin tua, waktu berkumpul tidak lama, mengapa harus pergi? Itu alasan logis, mestinya bisa diterima. Alasan sentimental, saya ingin menikmati rumah yang lama saya tinggalkan, ingin lebih banyak tidur di kasur dan memeluk guling yang dulu menjadi kawan di masa kanak-kanak, ingin melihat matahari terbit dari balik jendela, seperti dulu saya intip setiap pagi, ingin… masih banyak lagi, semuanya sentimental belaka. Tidak penting dan mengada-ada. Anda boleh tidak menerima.

Namun liburan saya yang terakhir sungguhlah berbeda. Saya tetap tidak ke mana-mana, saya di rumah saja seperti biasa. Hanya saja ada yang berubah di rumah saya. Ketika saya pergi ke Australia tahun 2009, bapak saya sedang merenovasi rumah. Gempa yang menggoncang kampung kami beberapa tahun yang silam telah membuat tembok-tembok retak dan genting-genting mulai bocor, jika hujan lantai menajdi basah. Sangat mengenaskan jika musim hujan tiba, kami selalu gelisah. Maka, setelah mengumpulkan hasil panen beberapa kali, dibulatkan tekat merenovasi rumah. Karena bosan dengan genting yang bocor, bapak saya tidak mau memakai genting, dicorlah seluruh atap rumah. Pikirnya sederhana, nanti kalau memiliki uang, bangunan lantai dua akan ditambah.

Nah, setelah tiga tahun, bangunan lantai dua ini mulai kelihatan bentuknya. Ada tiga ruangan. Satu kamar dibuat spesial untuk saya, untuk menyimpan barang-barang yang tidak bisa saya bawa pindah ke sana kemari, juga perlengkapan harian kalau saya liburan. Kamar sebelah lebih kecil ukurannya, didedikasikan sebagai ruang sembahyangan. Mendengar penjelasan itu air mata saya sudah tidak tahan untuk tidak meleleh, untung saya bisa menghardiknya sehingga dia kembali bersembunyi di pelupuk sana dan tidak berjatuhan. Juga da satu ruangan lain, belum tahu buat apa. Intinya, rumah kami sudah berbeda. Ada lantai dua, di mana dulu tidak ada. Pelatarannya cukup luas, yang melindungi saya jika duduk-duduk di sana, sehingga tidak nampak dari jalan raya. Kalau orang Aussie pasti sudah akan menempatkan alat BBQ di sana, memang sangat nyaman. Sayapun sangat menikmati bagian baru rumah kami.

Jika pagi menjelang, saya duduk saja di pelataran memandang ke depan, ke arah utara, di sana Gunung Kawi yang tersabut kabut berdiri gagah menjadi lukisan hidup untuk mensyukuri kebesaran Tuhan. Ditemani segelas kopi, saya lantunkan pujian untuk Sang Ilahi. Betapa engkau sungguh baik pagi ini.

Jika kepala saya arahkan ke kanan, ke arah timur, samar-samar terlihat Gunung Semeru mengeluarkan asap. Selalu begitu sejak dulu. Seolah ingin berkata, “jangan main-main dengan daku, atau kalian akan menjadi abu.”   Memang Gunung Semeru ini masih rajin mengeluarkan hujan abu. Malah berbahaya jika dia tidak batuk-batuk, bisa-bisa letusannya kan mengharu biru.

Siang menjelang, biasanya saya bermain-main dengan kemenakan yang katanya sangat mirip dengan saya. Saya harus menegaskan, mirip apanya? Wajahnya atau kenakalannya? Saya sedikit malu ketika ternyata mirip kedua-duanya, baik wajah maupun kenakalannya. Biarlah itu, bagi anak menjelang 4 tahun kenakalan selalu dimaafkan. Beda dengan yang menjelang 40 tahun, kenakalan tentu tidak bisa diabaikan.


Jika sore menjelang, saya kembali menikmati indahnya alam dari pelataran. Surya yang terbirit-birit pergi di ujung barat, meninggalkan gurat-gurat lukisan. Seolah hendak mengatakan, ‘aku pergi tak akan lama, jangan sedih ada kawanku menemani, rembulan”. Dan janjinya memang bisa diandalkan. Malam menjelang dan rembulanpun datang. Ada sedikit awan yang mencoba menghadang, tetapi dia tetap melangkah tenang seolah dialah satu-satunya pujaan.

Sahabat, ke mana harus pergi jika di sini kita menemukan betapa Indahnya alam. Cukup menoleh ke muka dan belakang, di sana ada gambaran indah terpampang. Teringatlah di budi yang mulai kelu ini, beberapa tahun silam. Kucoba memutar gas motor dalam-dalam dari daerah Tuka – Bali untuk mendapatkan sinar matahari senja di Tanah Lot. Tak ada hasil, karena hujan lebih dahulu membanjir. Atau di kesempatan lain, ingin melihat indahnya matahari terbit di puncak Bromo. Setelah lelah mendaki, awan tebal menutup hadirnya sang surya. Alhasil, dia sudah tinggi ketika mata bisa menjangkaunya. Namun di sini, di rumah ini semua sudah tersedia. Terimakasih Tuhan, Engkau telah menggenapkan semuanya tanpa harus aku ke sana.

Oh iya, Desember sudah datang, Adven sedang kita jalani, Natal sebentar lagi menjelang. Apakah Anda merindukan kedatangan-Nya? Atau lebih merindukan si kakek tua berjenggot panjang. Bermantel warna merah katanya membawa hadiah. Seperti yang ditunggu banyak anak-anak, katanya namanya Sinterklas, padahal dia tidak pernah ada. Tetapi dibuat ada demi bisnis semata. Bahkan juga di Gereja. Anak-anak berkerumun meminta hadiah, katanya dari santa. Mengapa tidak meminta hadiah dari yang lahir di kandang sana? Ah sudahlah, hal ini tidak perlu dijadikan masalah, hanya akan memperlelah.

Tapi memang banyak keluarga yang bepergian saat liburan Natal. Ditambah liburan sekolah tiga bulan lamanya. Satu hal yang kerap saya sayangkan, bahwa sebagian dari mereka tidak merayakan Misa Natal, hanya demi menyesuaikan tiket kapal. Amat saying bukan? Dari pada membeli tiket yang mahal demi natal, mendingan berangkat lebih awal, toh tahun depan masih ada Natal? Itu kalau kita belum dijemput ajal.

Mari kita buat perhitungan, sedikit memaksa tetapi itu nyata. Bonus liburan panjang di akhir tahun, yang kata orang namanya Christmas, ya karena menyambut datangnya Kristus. Atau kalau dibalik, karena Yesus lahir kita dapat bonus libur. Nahhh, khan tidak sopan namanya, hadiah diambil tetapi perayaan mangkir? Semoga Anda tidak termasuk seperti mereka. Saya yakin itu, karena biasanya Anda memiliki perhitungan yang baik. Rencana matang sudah lama dijerang. Mumpung masih ada sebulan, jangan sampai terlewat malam penuh rahmat itu. Semoga Anda adalah pribadi yang senantiasa merindukan Allah, di manapun Anda berada.

Sahabat, teringatlah sebuah pujian Mazmur kesukaan. Jika tidak salah menerka, lagu itu tertulis pada larik-larik Mazmur 96. Kalimat-kalimatnya bisa saya bahasakan dengan bebas demikian. Kemanakah kamu akan pergi. Kemanakah kamu akan bersembunyi dari kasih Tuhan. Jika kamu berlari secepat rusa ke ujung barat, Dia sudah menunggu engkau di sana. Jika kamu naik ke puncak tertinggi, Dia juga sudah ada di sana. Bahkan kalau kamu menyelinap masuk ke rumah para mayat, Dia sudah menunggu kamu di sana. Kemanakah kamu akan pergi? Kemanakah kamu akan bersembunyi? Tidak ada tempat lagi untuk bersembunyi dari kasih-Nya.

Kalau Anda suka menjelajah dunia maya, carilah lagu dengan judul Your Love. Putarlah, dan ikutlah bernyanyi. Liriknya sudah saya tuliskan untuk Anda di bawah ini. Oh iya, sebelum Anda terlelap dalam alunan lagu, saya hanya ingin mengucapkan, selamat memasuki masa Adven. Selamat menantikan datangnya Tuhan. Jangan sampai kelewatan, jangan sampai menyesal nanti, karena Tuhan datang dan Anda tidak berjumpa dengan-Nya. Atau karena Anda terlalu sibuk mempersiapkan ini-itu, sehingga lupa yang utama. Persiapkan diri baik-baik. Tuhan sudah di ambang pintu, siap memberkati Anda sekeluarga.

 

Your Love

You’ve examined my heart and Lord, you know me

There’s no use pretending; You see right through me

You know where I am; You see all I do

Lord, You’re never sleeping

You know all my words before I speak

You know where I stand, and what I seek

You know if I’m laughing or if I’m crying

Lord you’re never sleeping

 

Reff:

There’s no place I can hide from Your love.

I can only survive  through Your love.

Show me somewhere to go  a place You don’t know to cover my soul 

On the wings of the dawn I might fly

To the ends of the earth, beyond the sky

I could go anywhere, But You’d always be there, Wherever I go…

 

Lord, You know when I sit and when I stand

Each moment I live I’m in Your hand

I can’t get away from Your sweet spirit

Lord You’re never sleeping

Long before I was born, your eyes could see me

You knew all my days before they’d ever reach me

so come what may, I know You’ll be there

Lord, You’re never sleeping

 

Salam dari Malang,

Romo Waris, O.Carm

PS: Oh iya, salah satu alasan kepulangan saya tanggal 11 November kemarin adalah karena adik saya menikah, ini foto keluarga saya. Komplit. Berdiri dari kiri ke kanan, adik ipar saya, Andis,  adik bungsu saya, Anna, adik laki-laki saya, Dwi, adik ipar saya Ermin, Saya, dan bapak saya. Yang duduk adalah simbok saya. Dan kemenakan saya Adit, yang katanya sangat mirip dengan saya itu.

Posted in Article