TUHAN, ENGKAU SUNGGUH DAHSYAT – Maggy

TUHAN, ENGKAU SUNGGUH DAHSYAT

Sebulan sebelum tanggal 15 Nopember 2012, mamiku mengirim pesan, ‘Non, oom Max mau berkunjung ke Melbourne. Kamu pegang ya no Hp nya supaya bisa kontak’. Aku beri catatan di kalenderku, ‘oom Max datang’.

Seminggu sebelum 15 Nopember 2012, pesan diulang. Dan sudah ada catatan di kalender.

Tanggal 15 Nopember: pesan diulang dengan tanda tanya, ‘apakah oom Max sudah kontak kamu?’ Aku balas, ‘belum’.

Tanggal 15 Nopember sore hari, pesannya berubah nadanya, ‘Non, si tante Niny kena darah tinggi katanya masuk rumah sakit’. Wah, sudah malam begini aku mau mencari kabar dimana. Ya tunggu saja karena mamiku toh kantor berita.

Tanggal 16 Nopember: aku sedang bercengkerama menonton film di rumah temanku ketika pesan dari kantor berita bunyinya sangat darurat: ‘tante Niny koma, tolong carikan pastor’. Waduh. Filmnya jadinya ceritanya apa ya ini? Aku mending cari pastor dulu sebisanya.

Ternyata pastor sudah ada. Nanti petang aku sudah bertekat akan bertandang. Kulaporkan suamiku untuk datang menjenguk petang itu, yang penting pesan dari kantor berita ditindaklanjuti oleh reporter setempat.

Segala sesuatunya berjalan dengan hikmat. Operasi, doa, perawatan, dan akhirnya.. Kesembuhan.

Aku menuliskan cerita ini bukan mengenai kronologis ataupun kesaksian. Aku hanya membagikan pengalaman iman dan spiritual pribadiku yang paling hina: menjadi seperti rasul Thomas yang memerlukan jari untuk mencucuk luka Yesus. Namun boleh kunaikkan sedikit pembelaan diriku, menjadi: bukan karena tidak percaya, namun hanya ingin merasakan menjadi saksi hidup dari kesembuhan seperti yang terjadi dalam kitab suci di jaman Yesus yang sudah baheula.

Malam ini, melalui misa dan undangan dari mulut ke mulut, aku boleh menyaksikan bukti kesembuhan yang dialami oleh tante Niny dari pecahnya pembuluh darah di otak yang mencapai skala 4, dan kulihat beliau dalam waktu satu bulan lebih beberapa hari dari tanggal 16 Nopember, sudah segar bugar.. Cantik, segar, berdandan pula!

Aku terpana. Kalbuku tertutup kabut. Kabut yang menghentikan seluruh akal budi dan daya insani, menyaksikan kedahsyatan kuasa Allah kami. Aku boleh menjadi Thomas, mencucuk jari, dan mukjijat memang sudah terjadi.

Aku hampir tidak mengenali bentuk rupa tante Niny yang ‘sesungguhnya’. Figur wanita cantik menarik, sigap dan gesit yang kutemui kemarin sore, sama sekali tak terbayang dalam benakku ketika melihatnya terkapar di ruang ICU dua hari setelah operasi. Bentuk tubuh bengkak dengan selang memenuhi sekujur kepala online games pokies, rambut yang dipangkas tanpa instruksi pemangkas profesional, dan aura gelap ruang rawat sungguh mencekamku. Aku memalingkan muka agar airmata tidak nampak hadir di pelupuk mata. Terbayang vonis dokter yang hanya menghadirkan dua fase kehidupan yang ditawarkan: mati atau lumpuh, sisanya hanya kehendak Allah yang terjadi. Aku hanya mampu berdoa tanpa suara. Tak mampu aku berbicara. Aku sungguh tidak mampu mengenali wujud asli wanita hebat ini.

Demikian kunjungan yang kami lakukan beberapa kali. Setiap kunjungan aku harus memperkenalkan diri sebagai anak pasutri Betty-Irwan karena memang kami belum pernah berkenalan dan bercengkerama seperti layaknya teman pasutri mamiku yg lain. Dan tentu saja kondisi otak yang baru tergenang darah dan luka menganga perlu pemulihan untuk bekerja sebagaimana mestinya. Demikian pula kunjungan malam ini, sekali lagi aku memperkenalkan diri sebagai anak pasutri Betty-Irwan, kubilang padanya, ‘Setiap kali kami jenguk tante masih tidur, sekarang nampak
baru bangun’. Beliau tertawa, ‘kurang ajar lu ye..’.. Aku tercekat,
Ya Tuhan, benar dia sudah bangun dan sadar!

Dalam kesaksian di saat homili, kami semua diam hening mendengarkan pengalaman iman yang dibagikan pertama oleh oom Wanto. Sosok laki-laki pendiam dan baik hati ini nampak misterius sejak pertama aku bertemu di ruang ICU. Karena bogem berat yang hadir di kepala isterinya juga nyatanya menghantam bapak sang belahan jiwa. Beliau hanya diam dengan kepasrahan mutlak terpancar dari jiwanya. Beliau berusaha tabah namun tetap, ketakutan klimaks tersirat di wajahnya, dari ketakutan pada isteri, takut pada situasi dan kondisi, dan takut akan Allah. Kurasa option terakhir yang menaklukan hati Allah dan mengurai belas kasihan atas kesembuhan.

Teriring isak tangis beliau selama sharing berlangsung, mestinya memang bentuk  luapan perasaan yang tak mampu diurai kata, sungguh memenuhi suasana syahdu seluruh umat yang hadir. Isak tangis dari jeritan kalbu seorang suami yang belum mau menerima saat harus berpisah dengan sang belahan jiwa, memaksa kami semua berurai airmata. Kurasa sungguh itulah nilai sebungkah maut yang sungguh memuai rasa takut.. Namun isak sesugguhnya kurasa berkiblat pada rasa syukur. Syukur atas kemenangan atas maut dan boleh menikmati hidup yang tetap bertaut.

Tuhanku, taklukan saja aku. Apapun kerjaku, tak ada yg perlu kutahu. Hanya kuasaMulah yang kutahu. Dan aku boleh merasakan menjadi saksi hidup dari karyaMu.. Terima kasih, Tuhan, kututup hari ini dengan rasa syukur berjuntai mengalir dari kalbu..

Posted in Article