Membangun Keluarga, yang Kudus – Romo Waris

(Bacaan : 1 Samuel 1:20-22, 24-28; Mzm 84; 1 Yoh3:1-2, 21-24; Luk 2:41-52)

Sahabat, hari ini kita merayakan pesta keluarga kudus. Saat yang tepat untuk merefleksikan panggilan kita sebagai keluarga. Bukan keluarga siapa-siapa, melainkan keluarga kita sendiri.

 

Hari-hari terakhir ini saya mendengar banyak kisah mengenai sulitnya mempertahankan kehidupan keluarga yang harmonis. Ada banyak hal yang datang mengusik ketenangan hidup berkeluarga.

 

Kalau Anda menyempatkan diri melihat perkembangan berita di Indonesia, mungkin sempat mendengar kabar mengenai Bupati Garut, yaitu Bapak Aceng. Berita mengenai beliau menghiasi layar tv dan surat kabar. Kisah bagaimana dia menikah secara siri, atau nikah di bawah tangan. Kemudian menceraikannya setelah empat hari menikah. Menceraikan hanya dengan mengirim SMS. Itu hanya satu kisah. Kisah yang lain masih banyak.

 

Bertambahnya penghasilan dalam keluarga adalah dambaan banyak orang. Namun jika gagal mengelola hasilnya adalah petaka. Ada banyak cerita, ketika seseorang semakin bertambah penghasilannya, terutama laki-laki, dia akan mencari wanita lagi. Alhasil bukan kebahagiaan yang diraih, namun nestapa. Di desa saya ada banyak kisah semacam ini. Membangun sebuah keluarga bukanlah hal yang sederhana, tidak segampang yang dilihat mata.

Keluarga Hanna dan Maria

Sahabat, ada baiknya kita menengok keluarga Hanna dan Maria sebelum kita melihat keluarga kita sendiri. Kisah keduanya mesti kita baca dalam Kitab Suci. Keluarga Hanna kita baca di Perjanjian Lama, terutama kitab Samuel. Sedang keluarga Maria ada di dalam Perjanjian Baru, dalam kisah-kisah mengenai kelahiran Yesus.

 

Dua keluarga ini unik, keduanya juga berkenan di mata Allah. Hanna adalah istri dari Elkana, sedangkan Maria adalah tunangan dari Yosef. Hanna sudah lama menikah dan tidak mendapat anak. Ada kemungkinan dia mandul. Sedangkan Maria masih muda dan perawan.

 

Hanna terus berdoa kepada Tuhan agar dia diberi keturunan, sedangkan Maria berjanji untuk melaksanakan kehendak Tuhan dalam hidupnya. Tuhan mendengar doa Hanna dengan memberinya keturunan, yaitu Samuel. Tuhan melaksanakan kehendak-Nya atas diri Maria, membuatnya menjadi ibu Tuhan tanpa merusak keperawanannya.

 

Samuel, putera Hanna adalah salah satu tokoh besar dalam Perjanjian Lama. Sedangkan Yesus putera Maria adalah kepenuhan karya keselamatan Allah. Elkana adalah ayah biologis Samuel, sedangkan Yusuf adalah ayah Yesus secara hokum (Jesus legal’s father).

 

Ketika Samuel berusia 3 tahun, dia dipersembahkan kepada Tuhan (Yahweh) di Shiloh, dan sampai akhir hayatnya ia berada di sana, dikhususkan bagi Allah. Yesus ketika berusia 40 hari juga disucikan di Bait Allah, dan selama 30 tahun Dia hidup di Nazareth bersama Yusuf dan Maria. Dan seterusnya.

 

Sahabat, apakah yang istimewa dari keluarga Hanna dan Maria ini? Yaitu peran serta Allah di dalamnya. Sebuah keluarga senantiasa dipengaruhi oleh budaya masyarakat di sekitarnya. Ketika masyarakat terbiasa dengan ‘kawin-cerai’, hal itu juga akan membawa dampak kepada keluarga. Bagi keluarga Hanna dan Maria, Allahlah yang utama. Kalau dilihat dari sudut budaya dan moral, mungkin kedua keluarga ini kurang sempurna, namun menjadi istimewa karena peran serta Allah di dalamnya. Ini yang kerap luput dari perhatian keluarga kita.

Menjadi dan Membangun Keluarga

Menjadi sebuah keluarga, secara sederhana dibutuhkan seorang ayah, seorang ibu, dan paling kurang seorang anak. Kalau memiliki lebih dari satu lebih baik lagi. Dengan segala hormat, inilah sebuah keluarga. Meski dalam masyarakat situasinya bisa sangat berbeda.

 

Maka dengan jujur harus dikatakan bahwa seorang perempuan dengan anak, bukanlah keluarga yang ideal. Demikian juga seorang pria dengan anak. Dua orang lesbian atau gay dengan anak, bukanlah sebuah keluarga yang ideal. Saya tidak akan membahas ini lebih jauh, karena ada yang lebih mendesak, yaitu kehadiran Allah di dalam keluarga.

 

Menjadi keluarga berarti membangun keluarga. Sungguh membangun hari demi hari, satu bata demi satu bata. Dibutuhkan kerjasama yang tulus dari seluruh anggotanya, antara ayah dan ibu juga anak-anak. Penolakan dari satu pihak untuk bekerja sama akan membuat proses membangun keluarga ini tersendat. Misalnya, jika anak bertingkah semaunya, tidak menurut bimbingan orangtua, apalagi sampai terseret kepada hal-hal yang buruk, keluarga juga akan mendapatkan dampak yang buruk. Sebaliknya kondisi yang tidak sehat dari orangtua akan memengaruhi perkembangan si anak. Misalnya orangtua yang suka bertengkar akan menggangu pertumbuhan psikologis anak. Apalagi kalau sampai bercerai, biasanya keluarga akan berantakan. Korban paling menderita adalah anak-anak. Sungguh dibutuhkan pengorbanan yang tidak kecil untuk membangun keluarga yang sakinah.

 

Pengorbanan ini lebih banyak berupa pengampunan. Mengampuni pasangan kalau dia berbuat salah. Menerima kembali apapun masa lalunya. Hal ini sangat sulit, tetapi bisa dilakukan. Ada banyak contoh yang bisa disebutkan, namun tidak perlu diungkapkan. Intinya satu, untuk membangun sebuah keluarga dibutuhkan pengorbanan, dan memberi ampun dan terus mengasihi adalah pengorbanan terbesar.

 

Membangun sebuah keluarga adalah proses panjang. Tidak semua keluarga berhasil melakukannya. Ada yang gagal, namun terus bertahan. Ada yang berhasil, kiranya bisa menjadi inspirasi bagi yang lain. Menolong keluarga-keluarga lain yang membutuhkan bantuan. Setiap keluarga mengharapkan kebahagiaan, namun itu mesti diraih denganbekerja keras. Terus mencintai dan mengampuni itu juga membutuhkan kerja keras.

 

 

Selamatkan keluarga

 

Seruan ini kiranya semakin penting di tengah mudahnya seseorang mengambil jalan cerai. Terkadang alasan yang diungkapkan untuk membatalkan sebuah keluarga sangat sederhana. Karena tidak suka ini atau itu. Bukan sesuatu yang sungguh sangat mendasar.

 

Namun ada batas-batas di mana kita menjadi begitu lemah. Seolah tidak lagi memiliki daya untuk sekadar melakukan langkah sederhana guna mempertahankan keluarga. Terkadang dibutuhkan langkah-langkah yang gila agar keluarga tetap utuh. Belajar lagi dan terus melakukan instropeksi diri. Mungkin kita bertanya, mengapa harus selalu saya yang melakukannya? Mengapa harus selalu saya yang mengalah? Mengapa harus selalu saya yang harus mengampuni? Dan seterusnya. Pertanyaan ini tidak perlu dijawab. Kalau harus dijawab, cukuplah dijawab dengan “just because”. Pertanyaan itu mungkin mendatangkan ketenangan, tetapi akan membimbing kepada perpecahan.

 

Di sinilah dibutuhkan langkah sederhana dan gila yang saya maksud di atas. Yaitu mengandalkan Tuhan. Sungguh, menyelamatkan keluarga dengan hanya mengandalkan Tuhan adalah langkah yang gila. Sangat sederhana, seolah kita menjadi bodoh, tetapi itu efektif. Banyak yang tidak percaya. Tetapi saya berani menantang, coba lakukan dan baru bicara. Banyak orang tidak percaya bahwa Tuhan itu bisa menolong. Banyak orang tidak yakin bahwa Tuhan itu bisa melakukan banyak hal yang tidak kita sangka-sangka. Mengapa bisa begitu? Karena banyak orang tidak sungguh-sungguh berserah kepada Tuhan. Banyak orang hanya menjadikan Tuhan sebagai hiasan belaka. Tuhan tidak dijadikan sebagaimana seharusnya. Aktif dalam kegiatan gereja tidak sama dengan percaya penuh kepada Tuhan. Menajdi pengurus di dalam gereja tidak sama dengan beriman secara tulus. Memiliki relasi yang banyak dengan imam atau uskup tidak sama dengan memiliki relasi yang akrab dengan Tuhan.

 

Bawalah keluarga kepada Tuhan. Cobalah dengan berdoa bersama. Tidak lama, cukup 10-15 menit setiap hari. Memasang lilin, mendoakan Bapa Kami dan Salam Maria. Ayah mendoakan istri dan anak-anak. Istr mendoakan suami dan anak-anak. Anak-anak mendoakan orangtua, cukup sederhana. Tidak banyak biayanya. Namun jarang yang melakukannya. Jika Anda berani, coba lakukan!

 

 

 

Tuhan memberkati.

 

Malang, 30 Desember 2012

 

Pesta Keluarga Kudus.

 

 

~~~~~~~~~~

salam dan doa

romo waris,o.carm

 

“I can do all things through HIM who strengthens me” (Phil 4:13)

Posted in Article