SELESAILAH SUDAH – Maggy Rochyadi



Aku baru bangun tidur sore. Rasanya lelah sekali. Hari ini sudah tuntas perayaan puncak HUT KKI ke 25 tahun. Rasanya seperti lari marathon, dari acara satu ke acara lainnya. Dan yang menyedihkan aku harus terlibat di dalamnya, mungkin anggota KKI akan sangat bosan melihat kehadiranku yang tidak pernah absen di banyak kegiatan. Mohon maaf ya atas banyaknya penampilanku yang terlalu menyita perhatian, sampai-sampai buku kenangan juga menyimpan banyak sekali fotoku, mungkin mengalahkan senior-senior KKI lainnya yang jauh lebih berjasa mengembangkan organisasi ini. Sekali lagi mohon maaf, karena aku sendiripun tidak tahu bagaimana tim redaksi bekerja.. Yang aku tahu aku hanya membantu menulis tentang kegiatan wilayahku saja.

Aku merenung dari berbagai peristiwa dan kegiatan. Salah satu yang membuatku kagum adalah kehadiran sejumlah umat KKI sampai memenuhi gereja St. Francis di Mill Park di acara tgl 15 September yg baru lalu. Dengan berbagai alasan jarak yang dikeluhkan berbagai kalangan, aku memang merasa sungkan berharap akan kehadiran misa yang jamnya pun tidak populer. Namun apa yang aku saksikan pada hari itu sungguh membuatku terpana. Jika orang bermotivasi indah untuk datang berpesta duniawi, itu sudah layak dan sepantasnya. Namun datang sepenuh hati merayakan pesta surgawi, itu sungguh luar biasa. Walaupun di sana sini masih terdengar dengung lebah, baiklah aku menutup celah di kuping, untuk tidak menghiraukan lebah, dan hanya bertaut dengan Allah. Memang semuanya nampak indah..

Kegiatan pesta sungguh luar biasa menyita waktuku. Selama seminggu mempersiapkan berbagai macam hidangan. Sampai aku membuka dapur umum karena waktu yang sangat tidak harmonis dikuasai sendiri. Maka baiklah asas gotong royong bertemu asa. Teman-teman wilayah datang membantu dan bersama mempersembahkan hidangan bagi semua warga.

Aku pelajari dari buku Scot Hahn yang sedang kubaca, The Lamb Supper, adalah mengenai persembahan. Sejak jaman dahulu kala sampai sekarangpun, persembahan tetap diberlakukan dalam ritual Katolik ataupun dalam kehidupan spiritual kita sehari-hari. Maka aku menarik benang lurus dari makna persembahan ini yaitu hidangan yang kita siapkan pada setiap perayaan.

Menyiapkan hidangan keroyokan, dan disantap gratisan, sungguh menyedapkan. Bukan saja raga, jiwapun terpuas dahaga. Kita merayakan bersama secara kekeluargaan. Benar-benar wujud nyata Keluarga Katolik Indonesia yang membentang dari setiap ujung Melbourne. Kuyakin hanya Allah yang bisa bekerja sekuat itu.
Walaupun masih ada banyak ketidakpuasan atas segala penyelenggaraan, kami mohon dimaafkan. Kekuatan manusia sungguh sangat terbatas, ketika Roh Kudus menghembus rahmat, maka manusia seringkali tak mampu menjadi hebat. Kami masing-masing menjadi kecil. Namun kami memegang Allah di pusat, baiklah segala yang kurang akan tetap nikmat dan tak berkurang hikmat.

Hari ini aku boleh tertawa lepas.
Hari ini segala penatku terlepas.
Hari ini segala usaha terhempas.

Dalam doa Bapa Kami kuhatur segala syukur, boleh bekerja sampai hampir engsel lepas..
Aku berencana masuk dalam keheningan. Akan kutinggalkan beberapa kegiatan paduan suara. Demikian pengurus sudah berganti, maka akupun harus hatur diri. Sesuai tulisanku di buku kenangan, usiaku sudah sangat cepat berkejar, maka haruslah ada generasi muda yang akan belajar..

Terima kasih kepada seluruh anggota Paduan Suara KKI yang selama ini membantu dan mau capai. Luar biasa.. Hanya itu yang dapat kuucapkan. Terima kasih kepada teman-teman di wilayah dan kerabat KKI lainnya yang banyak sekali membantuku.. Tidak mampu kusebut satu persatu. Biarlah hanya Allah yang tahu segala persembahan kita. Aku akan tetap bekerja, namun hendaknya bukan untuk tarik suara. Aku senang menjadi pembantu saja. Membantu siapa saja dan hanya Allah saja.

Terima kasih..
Terima kasih..
Terima kasih.

Posted in Article, Percikan Permenungan