|
 |
|
 |
Berita Wilayah
|
|
|
 |
| |
| REKOLEKSI KELUARGA WIL. THERESIA - Thursday, June 10, 2010REKOLEKSI KELUARGA WIL. THERESIA
Maggy Mihardja
Tujuh bulan yang lalu wilayah St. Theresia mengikuti Rekoleksi Pasangan yang dibawakan oleh Sr. Rita dari Pastorelle Sisters. Sesuai anjuran Sang Suster, hendaknya kami mengadakan Rekoleksi lanjutan 6 bulan kemudian untuk memelihara cahaya cerah yang dibawakan dari rekoleksi tersebut. Sangat tidak mudah bagi pasangan migran yang baru saja menapaki penghidupan baru di negara ini, dimana tantangan berat bagi para pasutri untuk memelihara api cinta dalam rumahtangga, terhadap pasangan dan anak-anak. Atas pemikiran demikian, maka kami tertantang untuk bisa memberikan sesuatu yang dapat terus memberi nyala api tersebut dengan bantuan kehadiran para Biarawan dan Biarawati.
Berhubung kami sudah memiliki chaplain (tujuh bulan yang lalu adalah kondisi vacant), maka aku bertanya pada Romo Warisapakah bersedia memberikan rekoleksi tersebut. Beliau mengatakan kesanggupannya. Maka aku mulai membenahi acara, dengan harapan kali ini akan hadir jumlah peserta yang lebih banyak bersama dengan anak-anak yang boleh mendapatkan penyegaran rohani juga. Segala sesuatu sudah kami persiapkan. Berbagai pernik-pernik persiapan sudah kami rangkaikan satu demi satu. Namun memang segala sesuatunya terkadang hadir dalam bentuk wangsit mendadak yang mendekati saat final.
Dari lagu-lagu misa yang sudah kupersiapkan ternyata tidak sesuai dengan tema perayaan hari itu, kemudian masalah pencetakan materi rekoleksi yang harus menunggu wangsit di malam hari dengan gaya pencetakan yang sangat bervariasi, disusun seperti buku. Sampai pagi pun masih berlangsung drama seru, dimana kereta api yang ditumpangi Romo Waris tidak mencapai stasiun yang dituju. Menurut jadwal akan tiba di stasiun Thomastown jam 9.01 pagi.. Memang ternyata tiba tepat jam 9.01 pagi tetapi di stasiun sebelumnya. Baik..itulah seninya bertransportasi umum di Melbourne, penuh lika-liku kesalahan teknis di ujung minggu.
Acara berlangsung dengan dihadiri 6 pasang suami isteri, dan dua orang tunggal putra, termasuk pembawa acara. Anak-anak sudah diberi asuhan oleh Sr. Nelia yang memang mengajar agama di Paroki setempat. Kami memulai acara sangat lewat dari pukul 10.. aku sendiri sudah tidak memperhatikan lagi detak jarum jam. Materi rekoleksi yang sudah tercetak dua macam, satu berbentuk buku aneh dan satu lagi berbentuk makalah umum, dibawakan oleh Romo Waris. Cukup melenakan.. diselingi oleh lagu-lagu romantis dan nostalgia dari Michael Buble, Paul Anka, Elvis Presley, dll.. ditawarkanlah cara mengejar kebahagiaan. Mudah dicerna, ringan, menggunakan bahasa sehari-hari, mestinya akan mudah diingat-ingat, dipahami, dan dijalani.
Tepat jam 12 siang, sesi pertama selesai, karena diingatkan oleh bunyi pemantik kompor yang mengingatkan jam makan siang. Mulainya boleh terlambat, tetapi akhirnya harus tepat, begitu prinsip Romo yang murah hati dan cermat. Kami menikmati makan siang. Setelah itu disambung dengan sesi kedua. Aku melirik jam, 13.05, sementara jadwal sesi harusnya 12.45 - 13.30 karena misa sudah dijadwalkan jam 13.45. Baik, mulainya boleh terlambat.. mudah-mudahan kali ini akhirnya tepat. Ternyata diskusi baru menghangat di saat yang mulai terlambat.. Sampai mendekati pk 14.00 aku dengan berat hati memberhentikan diskusi hangat tersebut untuk mulai misa. Rupanya jelas kenapa isyaratku tidak dipahami oleh Romo, ternyata beliau salah menafsirkan jam.. mundur 60 menit.. (padahal bukan daylight saving).
Misa dihadiri lebih sedikit lagi, karena sebagian sudah pulang untuk mengurus berbagai kepentingan. Namun kali ini berakhir tepat. Kami berbondong-bondong pulang dengan membawa cahaya dan berkumpul di rumahku, yang memang posko sejak dahulu kala. Aku bertukar pikiran dengan temanku, mengenai diskusi di sesi kedua yang dilontarkan oleh salah seorang temanku mengenai mengejar kebahagiaan. Terkadang kita mengorbankan kebahagiaan sendiri demi untuk melihat kebahagiaan orang lain, misalnya anak-anak.. Orangtua lebih banyak menuruti kepentingan anak-anak dibanding kepentingannya sendiri yang biasanya tidak pernah dipedulikannya lagi, bahasa sehari-harinya 'demi anak'. Apakah memang harusnya demikian?
Masih ada beberapa lagi rumusan permasalahan yang dilontarkan dalam forum diskusi, tanggapan atas sharing dan pertanyaan yang mengganggu kalbu. Sayang waktunya terbatas sekali, walaupun sudah diberikan daylight saving lokal khusus KKI, namun tetap belum terselesaikan. Ada satu tanggapan dari peserta yang hari itu datang sendiri karena keluarganya masih tertinggal di luar negeri, menyatakan, waktunya terlalu singkat. Harusnya diadakan satu hari penuh, ditutup misa di akhir sore hari. Mungkin ini bisa dijadikan masukan untuk pembawa acara ataupun pencetus acara di masa mendatang, kebutuhan untuk diskusi, mendengarkan/didengarkan, memahami/dipahami, sepakat/disepakati, memberi/menerima simpati, bertanya/menjawab.. Sesuatu yang indah dalam kehidupan komunitas bersama dimana masalah yang berat akan terasa indah dipikul bila ada kesempatan untuk berbagi.
|
| Wilayah Unik - Thursday, February 18, 2010Wilayah Santo Benediktus punya keunikan tersendiri, dipimpin oleh dua perempuan, yang kedua-duanya bernama “Liana”. Sebuah organisasi bisa saja dipimpin oleh dua perempuan, tapi mana ada kedua-duanya menyandang nama sama, “Liana”.
Keunikan tidak berhenti sampai di situ. Dua minggu setelah Tahun Baru, mereka menggelar piknik bersama, dihadiri oleh hampir 50 orang dewasa dan anak di Mornington Park, di belahan Selatan kota Melbourne. Piknik bareng-bareng ini diorganisir secara bareng-bareng pula di bawah inisiatif mantan Wakil-Ketua KKI, Johan Yamin, dengan mengundang pula Ketua KKI, Heru Prasetyo (yang datang telambat karena maklum kesibukannya sebagai Ketua) dan dua mantan Ketua, yang datang bersama anak-anaknya dan calon menantu.
Perhelatan besar untuk menyambut datangnya Tahun Baru ini berjalan “gayeng”, kata orang Jawa. Semua yang hadir bisa bercengkrama, bergurau, tukar lelucon (konon tak ada yang jorok), dan tukar berita (konon tak ada yang gossip). Pendek kata, pas sekali untuk saling mempererat keakraban. Karena tidak ada pastor, atau bruder, atau suster, yang hadir, maka umat pun tidak terdorong untuk bicara soal yang saleh-saleh atau agama. Singkat kata, sangat sekuler.
Ada satu keunikan lagi. Pada kesempatan itu hadirin yang terhormat juga diajak rame-rame nyanyi “Panjang Umurnya, Panjang Umurnya” untuk dua ibu yang berulangtahun, yang percaya atau tidak, namanya juga kebetulan sama, Ling dan Ling. Maka, setiap anak dan orang dewasa pun boleh beruntung kebagian kue ulangtahun yang kedua-duanya bernuansa berat coklat dan kakao.
Selesai perhelatan, semua yang hadir diajak melanjutkan piknik bareng-bareng ke Arthurs Seat, untuk memetik buah cherry dan strawberry. Hanya separuh (26 orang) yang bersedia melanjutkan acara menjadi ‘buruh petik amatiran’. Sisanya pulang ke habitat masing-masing, padahal matahari masih jauh di atas ufuk Barat.
Ditanya kapan akan ada kegiatan gayeng bareng-bareng seperti itu lagi, tidak ada yang bisa menjawab. “Silahkan tanya kepada Liana.” Tapi Liana yang mana?
 |
|
|
|
 |
|
 |
|
|