Oleh Rev. Albertus Herwanta, O. Carm
Hari ini, Gereja Katolik merayakan Pesta Pengangkatan Salib Suci (“The Exaltation of the Holy Cross”). Ini mengingatkan kita akan peristiwa ditemukannya salib yang dipakai menyalibkan Yesus. Santa Helena, ibunda Kaisar Konstantin mengangkat salib itu pada tahun 335 Masehi. Apa makna dan pesan rohani pesta ini bagi hidup Kristiani? Kita dapat menggalinya berdasarkan sabda Tuhan yang dibacakan pada hari ini (Bilangan 21:4-9; Filipi 2;6-11; dan Yohanes 3:13-17).
Pertama, transformasi makna salib: Dari simbol kematian menuju kehidupan.Kitab Bilangan menceritakan tentang ular tembaga yang ditinggikan oleh Musa sebagai sarana penyelamatan bagi orang Israel yang dipagut ular. Ular, yang seharusnya menjadi simbol kematian, ketika dipandang dengan iman, justru menjadi alat penyembuhan.
Injil Yohanes 3:14-15 mengaitkan peristiwa ini dengan Yesus yang ditinggikan di kayu salib. Salib, yang awalnya merupakan simbol kutuk dan kematian, diubah menjadi sumber kehidupan kekal bagi kaum beriman.
Pesan pertama ini relevan untuk hidup Kristen. Salib mengajarkan bahwa Allah dapat mengubah hal yang paling hina dan menyakitkan dalam hidup kita menjadi sumber kekuatan dan keselamatan. Ini mendorong kita untuk memandang tantangan dan penderitaan dengan iman, percaya bahwa Allah bekerja melalui segala sesuatu untuk kebaikan kita .
Kedua, kerendahan hati dan ketaatan Kristus sebagai jalan kemuliaan. Santo Paulus, dalam suratnya kepada jemaat di
Filipi, menggambarkan kenosis (pengosongan diri) Kristus yang rela meninggalkan kemuliaan-Nya, mengambil rupa hamba, dan taat sampai mati di kayu salib. Karena ketaatan-Nya, Allah sangat meninggikan Dia dan kepada Yesus menganugerahkan “nama di atas segala nama” . Tuhan Yesus itu berada di atas semua orang dan semua nama. Tidak ada yang lebih tinggi daripada Dia.
Fakta iman ini amat relevan untuk hidup Kristen: Yesus memberikan teladan bahwa jalan menuju kemuliaan bukan kekuasaan atau kejayaan duniawi, tetapi kerendahan hati, pelayanan, dan ketaatan kepada kehendak Allah. Ini mengajak kita untuk hidup dalam kerendahan hati, melayani sesama, dan taat dalam iman meski dalam keadaan sulit.
Ketiga, kasih Allah yang radikal dan menyelamatkan. Injil Yohanes 3:16-17 menekankan kasih Allah yang begitu besar kepada dunia, sehingga Ia mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal untuk menyelamatkan dunia. Salib menjadi puncak ungkapan nyata kasih ini. Di sana, Yesus menjadi korban penebusan dosa.
Apa relevansinya untuk hidup Kristen? Kasih Allah yang radikal ini memanggil kita untuk membagikan kasih yang sama kepada sesama. Salib menginspirasi kita untuk mengampuni, menerima, dan peduli kepada orang lain, terutama yang menderita dan tersingkirkan.
Tiga pesan di atas mengingatkan kita, umat Kristen untuk memahami, mencintai, dan menghayati Salib Yesus dalam kehidupan sehari-hari. Kita mesti bangga akan salib Tuhan Yesus Kristus. Kita tidak boleh takut dan malu terhadap Yesus yang disalibkan, karena kematian-Nya di kayu salib merupakan ungkapan cinta terbesar dari Allah Bapa-Nya kepada dunia. Kita semua diajak menyatukan salib penderitaan hidup dengan salib Tuhan kita Yesus Kristus dan menjadikannya ungkapan kasih terbesar terhadap Tuhan dan sesama. Sanggupkah kita melaksanakannya?

Comments are closed