Yang Kelewat Percaya Diri

Oleh Rev. Albertus Herwanta, O. Carm

Injil hari ini (Lukas 16:19-31) berbicara tentang orang kaya yang kelewat percaya diri. Siapakah orang itu? Dia adalah orang Farisi, pendengar kisah yang disampaikanYesus. Melalui cerita itu, Dia menyampaikan kritik tajam kepada pendengar-Nya itu. Mengapa Yesus mengaitkan orang Farisi dengan orang kaya?

Untuk memahami keterkaitannya, kita perlu melihat konteksnya. Lukas 16:14-15 menjadi pembuka tepat sebelum perumpamaan ini: “Semuanya itu didengar oleh orang-orang Farisi, hamba-hamba uang itu, dan mereka mencemoohkan Dia. Lalu Ia berkata kepada mereka: ‘Kamu membenarkan diri di hadapan orang, tetapi Allah mengetahui hatimu. Sebab apa yang dikagumi manusia, dibenci oleh Allah.'”

Dengan pengantar ini, Yesus menceritakan perumpamaan tentang orang kaya dan Lazarus. Bagaimana kita memahami bahwa si kaya itu adalah orang Farisi?

Pertama, itu tentang kekayaan dan status. Orang Farisi merupakan bagian dari elite religius dan sosial. Mereka sering menganggap kekayaan materi sebagai tanda berkat dan perkenan Allah. Orang kaya, yang “setiap hari ia berpakaian jubah ungu dan kain halus, dan setiap hari ia bersukaria dalam kemewahan,” mewujudkan status istimewa ini.

Kedua, orang yang mengabaikan kaum miskin. Kisah ini menyoroti sikap tidak peduli total si orang kaya terhadap pengemis Lazarus, yang terbaring di pintu gerbangnya. Orang Farisi, meskipun memiliki pengetahuan mendetail tentang Hukum Taurat yang memerintahkan untuk mengasihi orang miskin (misalnya Ulangan 15:7-8), sering mengabaikan keadilan dan kasih kepada Allah (Lukas 11:42). Mereka tidak mewujudkan pengetahuannya dalam tindakan penuh belas kasihan.

Ketiga, orang yang mengakui Abraham sebagai Bapanya. Si orang kaya, di alam maut, berulang kali memanggil Abraham dengan sebutan “Bapa Abraham” (16:24, 27, 30). Ini adalah klaim umum orang Farisi (dan orang Yahudi pada umumnya), yang mengandalkan keturunan fisik dari Abraham untuk identitas spiritual mereka (lihat Yohanes 8:39). Perumpamaan ini menantang anggapan ini dengan menunjukkan bahwa kekeluargaan sejati dengan Abraham ditentukan oleh iman dan ketaatan, bukan garis keturunan.

Keempat, percaya pada Kitab Suci, bukan pada pesannya. Si orang kaya meminta Abraham untuk mengutus Lazarus supaya memperingatkan saudara-saudaranya, dengan anggapan bahwa suatu tanda ajaib dari orang mati akan cukup untuk membuat mereka bertobat. Jawaban Abraham adalah klimaks dari perumpamaan ini: “Pada mereka ada kesaksian Musa dan para nabi; biarlah mereka mendengarkan kesaksian itu… Jika mereka tidak mendengarkan kesaksian Musa dan para nabi, mereka tidak juga akan mau diyakinkan, sekalipun oleh seorang yang bangkit dari antara orang mati.” (Lukas 16:29-31).

Orang Farisi membanggakan diri sebagai ahli dalam “Musa dan para nabi” (Kitab Suci Perjanjian Lama). Namun, Yesus mengatakan bahwa mereka gagal untuk mengindahkan pesan intinya tentang keadilan, belas kasihan, dan kesetiaan. Jika mereka tidak mau percaya pada apa yang sudah dikatakan oleh Kitab Suci, tidak ada tanda ajaib seperti seseorang yang bangkit dari kematian—yang akan mengubah hati mereka.

Empat hal di atas menunjukkan sikap orang Farisi yang kelewat percaya diri dan bisa selamat atas usaha atau prestasinya sendiri. Hal itu kontras dengan Lazarus yang berarti Tuhan telah menolong. Karena mengandalkan Tuhan, dia selamat di pangkuan Abraham (bapa kaum beriman). Sementara yang kelewat percaya diri justru terjebak dalam siksa abadi. Apakah kita termasuk yang percaya dan mengandalkan Tuhan atau yang kelewat percaya diri?

Tags:

Comments are closed

Latest Comments