Tentang Kematian dan Kehidupan

Oleh Rev. Albertus Herwanta, O. Carm

Setiap tanggal 2 November, Gereja secara khusus mendoakan arwah kaum beriman. Di sana, Gereja menunjukkan iman dan pandangannya tentang mereka yang sudah meninggal. Sementara bagi banyak orang, kematian itu menakutkan dan melambangkan perpisahan akhir dari kehidupan, bagi orang Kristen, kematian dan kehidupan bukanlah dua hal yang menakutkan dan terpisah. Keduanya merupakan kesatuan dari kisah tunggal yang penuh harapan, yang ditulis oleh Allah.

Dengan merenungkan bagian-bagian kunci dari Kitab Suci kita dapat melihat perjalanan yang jelas dan menghibur dari keberadaan kita yang fana menuju ke kemuliaan kekal. (Renungan ini ditulis berdasarkan Kebijaksanaan 3:1-9; Mazmur 23; Roma 6:3-9; dan Matius 25:31-46. Ada pilihan bacaan lain).

Perjalanan ini dimulai dengan Kitab Kebijaksanaan, yang sepenuhnya mengubah perspektif kita tentang kematian. Apa yang tampak seperti akhir yang tragis sebenarnya adalah sebuah transisi yang kudus. Kitab ini meyakinkan kita bahwa “jiwa-jiwa orang benar berada dalam tangan Allah.” Mereka berada dalam damai, aman dalam pemeliharaan-Nya, dan pada suatu hari akan bersinar dengan kemuliaan-Nya. Inilah pengharapan kekal kita—tujuan akhir yang mendefinisikan ulang kematian bukan sebagai sebuah kekalahan, melainkan sebagai gerbang untuk berada bersama Allah selamanya.

Tetapi bagaimana kita berjalan menuju pengharapan ini? Mazmur 23 memberikan jawabannya. Ia menggambarkan Allah sebagai Gembala kita yang penuh kasih. Ia menuntun dan memulihkan kita sepanjang hidup. Yang terpenting, ketika kita menghadapi “lembah kekelaman,” kita tidak takut karena Ia menyertai kita. Sang Gembala tidak menghilangkan lembah yang gelap itu, tetapi Ia secara pribadi menemani kita melewatinya. Mazmur ini adalah pengalaman nyata dari pengharapan tersebut—sebuah perjalanan penuh kepercayaan, bukan akhir yang menakutkan.

Bagaimana perjalanan tanpa rasa takut seperti itu mungkin terjadi? Rasul Paulus menjelaskan realitas rohani dalam Surat Roma. Melalui persatuan kita dengan Kristus dalam Pembaptisan, kita berbagi dalam kematian dan kebangkitan-Nya. Dosa dan hidup lama kita yang penuh dosa telah turut disalibkan bersama-Nya, sehingga kita sekarang dapat hidup dalam kehidupan baru dalam kebangkitan. Ini berarti kuasa maut telah dipatahkan. Kematian fisik bukan lagi hukuman yang harus ditakuti, melainkan sebuah jalan masuk kepada kepenuhan hidup baru yang sudah kita miliki di dalam Kristus.

Kehidupan baru ini bukan hanya sekadar ide yang menghibur; ia harus aktif dan terlihat. Injil Matius menunjukkan hal ini dalam adegan Pengadilan Terakhir. Hidup kekal diberikan kepada mereka yang melayani Kristus dengan melayani sesama—memberi makan yang lapar, menyambut orang asing, dan merawat yang sakit. Sebuah kehidupan yang dibebaskan dari rasa takut akan kematian itu kehidupan yang bebas untuk mengasihi dengan penuh pengorbanan.

Kesimpulannya, ayat-ayat Kitab Suci ini membentuk suatu rantai kebenaran yang kuat. Karena Kristus telah mengalahkan maut (Roma), kita memiliki pengharapan (Kebijaksanaan). Pengharapan ini memampukan kita untuk berjalan tanpa takut (Mazmur 23), yang kemudian meluap menjadi kasih yang praktis dan penuh belas kasih bagi mereka yang membutuhkan (Matius). Bagi orang Kristen, kematian bukanlah akhir, melainkan awal dari kehidupan yang sejati.

Tags:

Comments are closed

Latest Comments