Oleh Rev. Albertus Herwanta, O. Carm
Pada Minggu Adven ketiga, Gereja merayakan Minggu Gaudete (Minggu Sukacita). Sabda Tuhan, khususnya bacaan pertama (Yesaya 35:1-6.10) diwarnai dengan ungkapan sukacita. Silakan membaca dan menyimaknya, niscaya akan menemukan kata-kata bersukaria, bersorak-sorai, atau kegirangan. Apakah alasan mereka bersukacita?
“Allahmu akan datang dengan membawa pembalasan dan ganjaran. Ia sendiri datang menyelamatkan kamu!” (Yesaya 35:4). Wujudnya tampak dalam Tuhan yang membuka mata orang buta, membuka telinga orang tuli, membuat orang lumpuh melompat, dan mulut orang bisu bersorak-sorai (Yesaya 35:5).
Pewartaan Yesaya itu terpenuhi dalam diri Yesus yang mengatakan dan mewujudkan bahwa “Orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta sembuh, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan, dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik” (Matius 11:4). Bait pengantar Injil menggarisbawahi perutusan Yesus itu. “Roh Tuhan ada pada-ku. Ia telah mengutus aku untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang sengsara” (Yesaya 61:1 dan Lukas 4:18-19).
Janji Tuhan kepada umat-Nya bukan kata-kata yang menggantung di langit, melainkan aksi nyata yang dapat dirasakan oleh mereka yang hidupnya tertekan, sulit, dan pahit. Untuk dapat mengalaminya orang dituntut memiliki iman yang kerap memerlukan kesabaran. Inilah semangat Adven, yakni menunggu dengan penuh kesabaran.
Santo Yakobus mengajak umat Kristen untuk bersabar. “Bersabarlah sampai kedatangan Tuhan, seperti petani yang menantikan hasil tanahnya yang berharga: Ia sabar sampai turun hujan musim gugur dan hujan musim semi” (Yakobus 5:7). Selama menunggu, orang diharapkan hidup bersama dan saling mendukung, tidak bersungut-sungut dan saling menyalahkan (Yakobus 5:9). Inilah semangat hidup komunitas Kristiani yang sejati.
Lebih dari itu, orang juga diajak untuk sungguh percaya kepada Tuhan. Artinya, orang meletakkan semuanya dalam tangan Tuhan; bukan dalam pemikiran dan perhitungan manusiawi semata. Dalam Injil hari ini, Yesus menegaskan, “Berbahagialah orang yang tidak menolak Aku” (Matius 11:6). Sabda itu seakan-akan menjawab pertanyaan Yohanes Pembaptis yang mengutus para murid-Nya untuk bertanya tentang pribadi dan identitas Yesus, “Engkaulah yang akan datang itu atau haruskah kami menantikan orang lain?” (Matius 11:3).
Realita menunjukkan bahwa ketika berada dalam krisis atau situasi sulit, beriman itu menjadi tantangan besar. Itulah yang dialami Yohanes Pembaptis ketika berada di dalam penjara. Dia dipisahkan dari semua informasi dan masyarakat; dikurung dalam tempat yang gelap dan sempit. Demikian pula tatkala terkurung dalam kemampuan dan pikiran manusiawi belaka, kita sering menghadapi hidup yang terasa gelap dan tanpa harapan.
Sabda Tuhan pada hari Minggu Gaudete ini mengajak kita untuk membuka mata hati dan bersabar menunggu Tuhan datang mewujudkan seluruh janji-Nya. Dengan demikian hidup kita akan diwarnai dengan sukacita sejati yang berdasarkan janji ilahi. Apakah kita mau bertekun dan bersabar menantikan kedatangan Tuhan yang segera tiba untuk memenuhi janji-Nya?

Comments are closed