Mengambil Bagian dalam Pembaptisan Tuhan

Oleh Rev. Albertus Herwanta, O. Carm

Peristiwa pembaptisan Tuhan Yesus di Sungai Yordan bukan sekadar peristiwa historis, melainkan peristiwa teologis yang mengungkapkan identitas Yesus. Itu pola dasar makna baptisan orang Kristen. Bacaan dari Yesaya 42:1-4.6-7, Kisah Rasul 10:34-38, dan Matius 3:13-17 mengajak kita merenungkan makna dan konsekuensinya bagi kita.

Makna Pembaptisan Tuhan

Lebih dahulu perlu direnungkan makna pembaptisan Tuhan Yesus. Peristiwa itu mengungkapkan tiga kebenaran mendalam. Pertama, solidaritas Tuhan Yesus dengan para pendosa. Meski tanpa dosa, Ia dengan rendah hati masuk ke dalam air baptisan pertobatan yang dikerjakan Yohanes Pembaptis. Itu wujud nyata solidaritas-Nya yang sempurna dengan manusia yang berdosa lewat sikap rela “dihitung sama dengan orang berdosa” yang berpuncak pada salib.

Kedua, penggenapan seluruh keadilan. Ketika Yohanes menyampaikan keberatan, Yesus menjawab bahwa hal ini perlu dilakukan “untuk menggenapkan seluruh kehendak Allah” (Mat. 3:15). Baptisan-Nya adalah langkah pertama dalam menjalankan misi penyelamatan oleh Bapa, yaitu memikul dosa umat manusia dan memberikan keadilan ilahi kepada mereka.

Ketiga, penegasan dan pengutusan resmi. Saat keluar dari air, langit terbuka, Roh Kudus turun ke atas-Nya, dan suara Bapa berkata, “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan”. Dengan itu, Tuhan secara resmi mengurapi dan mengutus Yesus sebagai “Hamba Tuhan” yang dinubuatkan Yesaya. Ia diutus untuk “menyatakan hukum ke seluruh bumi”, menjadi “terang bagi bangsa-bangsa”, membebaskan yang terbelenggu, dan membawa keadilan dengan kelembutan.

Relevansi bagi Hidup Krlsten

Apa relevansinya bagi orang yang dibaptis? Baptisan kita menghubungkan kita secara mendalam dengan peristiwa di Sungai Yordan. Baptisan kita bukan sekadar upacara masa lalu, melainkan identitas dan panggilan hidup yang aktif dan berkelanjutan hingga akhir hidup. Ini mengandung makna mendalam.

Pertama, orang dipanggil ke dalam persekutuan dan misi. Baptisan menggabungkan kita ke dalam Tubuh Kristus, yakni Gereja. Sejak saat itu, kita menjadi anggota umat Allah yang diutus. Seperti Yesus diurapi Roh untuk suatu misi (Kis. 10:38), kita pun menerima Roh yang sama untuk ikut serta dalam karya penyelamatan-Nya di dunia.

Selain itu, orang menghidupi identitas sebagai Anak yang Dikasihi. Suara Bapa yang menyatakan Yesus sebagai “Anak yang Kukasihi” juga ditujukan kepada kita melalui baptisan. Tugas utama kita adalah hidup setiap hari secara sadar akan identitas ini — sebagai anak-anak Allah yang dikasihi — dan mencerminkan kasih itu dalam relasi dengan sesama.

Akhirnya, ini tentang menjadi hamba dan terang. Gambaran “Hamba Tuhan” dari Yesaya kini diwariskan kepada kita. Baptisan memanggil kita untuk melayani dengan sikap lembut dan teguh, membawa pengharapan, keadilan, dan pembebasan dalam lingkup hidup kita masing-masing, baik dalam keluarga, tempat kerja, maupun masyarakat.

Kesimpulan

Pembaptisan Yesus mengajak kita untuk melihat baptisan kita sendiri bukan sebagai ritual formal belaka, melainkan sebagai titik awal hidup yang melayani dab mengikuti teladan Yesus. Seperti Yesus yang segera dibawa oleh Roh ke padang gurun dan kemudian menjalani misi-Nya, kita pun diutus untuk mewartakan Kabar Gembira dalam tindakan nyata, sesuai dengan keadaan hidup kita.

Bagaimana kita dapat lebih menghidupi panggilan sebagai “hamba” dan “anak yang dikasihi” dalam peran dan tanggung jawab sehari-hari kita? Mari kita renungkan dan laksanakan. Tuhan memberkati.

Tags:

Comments are closed

Latest Comments