TAK ADA YANG TAHU PASTI

Oleh Petter Sandjaya

“Tuhan, betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Jika Engkau mau, biarlah kudirikan di sini tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia.” (Mat 17:4)

Ah, dasar Petrus ini… Kenapa bisa mirip sekali dengan saya. Yang kadang asal bicara saja untuk mencairkan suasana daripada situasi terlihat canggung. Karena yang saya tangkap dari perikop tersebut, Petrus sedang terpana, kaget, dan tidak tahu haru berkata apa.

Hmm… Kalau ditelaah lebih luas, bukankah kebanyakan manusia pun begitu, seringnya hanya memikirkan dan mengomentari hal-hal yang nampak di depan mata saja. Lupa atau bahkan me-nomor-dua-kan kehidupan setelah dunia ini. Cemas dan gelisah akan segala hal yang tidak dapat mereka terka.

Kemarin beruntung sekali bisa mendapatkan inti dari kotbah Pastur Trinold dalam misa Pra-Paskah di Ta Pinu Shrine. Apa yang pasti di dunia ini? Tidak ada. Abraham disuruh pergi dari negerinya. Kemana? Ga tahu, Abraham pun ga tahu, cuma modal percaya suara hati (Kej 12:1). Pastur Trinold pun begitu, dari Indonesia sempat ke Thailand, dan sekarang bersama kita di Melbourne, sebuah perjalanan yang tidak terbayangkan olehnya di awal perjalanannya masuk seminari untuk menjadi Chaplain KKI Melbourne. Teman-teman Mudika yang bersekolah di sini, hanya membawa harapan yang disertai ketidak-pastian apa yang akan terjadi selama di sini dan setelah sekolah mereka selesai.

Dulu ketika Rusia berusaha masuk ke Ukraina, banyak yang mengira akan menjadi awal dari Perang Dunia 3, ternyata tidak jadi, walau konflik masih terjadi sampai saat ini. Lalu, 28 Febuari kemarin, kirim-kiriman rudal antara Israel-US versus Iran berlangsung tanpa henti. Apakah ini awal dari perang dunia 3, tidak ada yang tahu pasti. Para ilmuan mengeluarkan teori-teori baru tentang prediksi alam semesta, tapi semuanya itu hanya kepastian-kepastian yang dapat dibantah, direvisi, dan dibuat teori yang baru, dengan kata lain walaupun resmi berbentuk tulisan ilmiah, itu bukanlah suatu bentuk kepastian tentang alam semesta yang begitu luas ini.

Bagi bakteri yang hidup di dalam organ kita, usus besar itu adalah alam semesta yang begitu luas. Dan organ lain mungkin dianggap sebagai galaksi lain yang tak mampu mereka jangkau. Jadi, kebayang kan betapa kecilnya kita, dan betapa tidak-begunanya kita meyakini sesuatu yang nampak di depan mata kita. Jangan-jangan apa yang kita yakini tentang dunia ini sebenarnya hanyalah “usus besar” dari galaksi-galaksi alam semesta yang kabarnya ada alam semesta lainnya. Aduh, ngomong apa sih saya, rumit sekali. Mari kita kembali ke daratan.

Petrus nampak konyol ketika mengatakan ingin membangun 3 kemah sebagai bentuk respek dan usahanya untuk mensucikan tempat tersebut. Tapi yang Yesus mau bukanlah menetap di atas bukit sana, melainkan turun gunung mengalami kecemasan, gelisah, memikul salib, dan bersandar pada kekuatan yang melampaui akal sehat, melampaui apa yang bisa terpikir oleh manusia. Jadi, kalau sekarang kita mengalami kecemasan, gelisah, bingung, atau dilema, itu bagus. Kita sudah menjalani tahap 1 yang Tuhan inginkan. Namun hidup kita belum komplit kalau tidak dilanjutkan ke tahap ke-2, yaitu bersandar pada kekuatanNya, alias beriman.

Mengalami penempaan iman, penggojlokkan karakter, dan pemurnian jiwa bukan persoalan sepele. Yesus saja yang pernah melihat surga, bisa mengalami kecemasan setelah hidup mem-bumi selama 33 tahun (Mat 26:39). Apalagi kita yang jarang memupuk dan memberi makan jiwa kita yang lapar ini.

Semoga di masa Pra-Paskah ini, di bulan pantang dan puasa ini, kita bisa terpikat dan terajak kembali untuk membina hubungan yang intim dengan Allah, sebagai modal kita untuk bisa memiliki iman yang tangguh sehingga karakter dan ucapan yang keluar dari kita adalah buah-buah roh yang baik, dan jiwa kita dapat diselamatkan dan berkenan di hadapanNya pada waktu ajal menjemput. Kapan? Tidak ada yang tahu.

Tags:

No responses yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Latest Comments