Lazarus yang Dikasihi Tuhan Yesus

Oleh Rev. Albertus Herwanta, O. Carm

Hari ini, kita berada pada Minggu V Masa Prapaskah dan membaca firman Allah yang sangat bermakna tentang kasih Allah.

Kasih Allah adalah asal mula segala kehidupan. Pada saat penciptaan, Ia menghembuskan Roh-Nya ke dalam diri manusia, menjadikannya makhluk hidup. Bacaan-bacaan hari ini mengungkapkan Allah yang tidak meninggalkan umat-Nya dan menyerahkannya kepada kematian.

Bagi bangsa Israel, yang diasingkan dan mati secara rohani, Allah membuat janji melalui nabi Yehezkiel: Ia akan membuka kuburan mereka dan membawa mereka kembali ke tanah mereka. Janji ini bukan sekadar pemulihan nasional, melainkan tanda kuasa-Nya untuk memperbarui apa yang tampaknya tanpa harapan.

Santo Paulus, dalam suratnya kepada jemaat di Roma, mengidentifikasi pelaku pembaruan ini. Roh yang sama yang membangkitkan Yesus dari antara orang mati berdiam dalam diri kita, orang Kristen. Kebangkitan itu bukanlah peristiwa sekali saja, melainkan realitas saat ini—Roh Kudus menjadi jaminan hidup kekal bagi mereka yang bersatu dengan Kristus.

Injil menunjukkan kepada kita kuasa ini bekerja bagi Lazarus. Tahukah Anda siapa Lazarus? Dia adalah orang yang dikasihi Yesus. Injil Yohanes menyebutnya minimal dua kali. “Maka saudara-saudara perempuan itu mengirimkan pesan kepada-Nya: ‘Guru, orang yang Engkau kasihi sedang sakit.’” Yohanes juga menulis, “Maka orang-orang Yahudi berkata: ‘Lihatlah betapa Ia mengasihi dia.’”

Dalam membangkitkan Lazarus yang dikasihi-Nya, Yesus tidak hanya melakukan mukjizat; Ia mengungkapkan identitas-Nya. Ia menyatakan, “Akulah kebangkitan dan hidup.”

Dia yang meniupkan nafas kehidupan ke dalam ciptaan, yang berjanji untuk membuka kuburan, kini berdiri di depan sebuah makam dan memanggil orang mati. Yesus itu bukan sekadar nabi yang meminta kuasa kepada Allah; Dia adalah Tuhan atas kehidupan itu sendiri.

Kebenaran ini adalah landasan iman Kristen. Jika Yesus adalah kebangkitan, maka kematian bukanlah kata terakhir.

Kebenaran ini menjadi renungan penting selama Masa Prapaskah. Prapaskah adalah saat untuk menguji kejujuran; masa untuk mengenal kuburan rohani kita sendiri: dosa, sikap apatis, dan cara-cara hidup kita yang terputus dari Allah. Tetapi ini juga masa harapan. Kita tidak dipanggil untuk sekadar meratapi keadaan kita, tetapi juga percaya bahwa Roh yang membangkitkan Yesus sedang bekerja di dalam kita.

Prapaskah mempersiapkan kita untuk Paskah dan mengingatkan kita bahwa suara yang sama yang memerintahkan Lazarus untuk “keluar” dari kubur berbicara kepada kita, memanggil kita dari kematian menuju kehidupan. Kita semua adalah Lazarus, yang dikasihi Tuhan Yesus dan dibangkitkan dari kematian.

Oleh karena itu, bagi kita, Kristus bukan hanya tokoh sejarah untuk dikagumi, tetapi juga Tuhan yang hidup dan berbagi kehidupan serta kemenangan-Nya dengan kita. Di dalam Dia, Allah, tujuan penciptaan terpenuhi: kita dihidupkan oleh Roh-Nya, dipelihara oleh kasih-Nya, dan ditakdirkan untuk hidup yang kekal. Apakah kita sungguh percaya?

Tags:

Comments are closed

Latest Comments