Oleh Rev. Albertus Herwanta, O. Carm
Di manakah Yesus berada setelah Dia terangkat ke surga? Dia duduk di sebelah kanan Allah Bapa di surga. Apa yang Yesus lakukan di sana? Dia terus menerus berdoa bagi para pengikut-Nya. Artinya, Dia tetap menyertai mereka. Kenaikan-Nya ke surga tidak memisahkan-Nya dari para murid-Nya. Sebaliknya, justru membuat Dia mampu menyertai mereka di mana pun berada.
Pada Minggu VII Paskah, Gereja mengajak kita merenungkan tentang doa, yakni doa Gereja perdana (Kisah Rasul 1:12-14) dan doa Yesus (Yohanes 17:1-11a). Kita tidak tahu apa yang para rasul dan Bunda Maria doakan. Namun kita mengetahui isi doa Yesus. Ada baiknya kita merenungkan doa Yesus itu.
Salah satu yang Yesus sebut dalam doanya ialah hidup kekal. “Sama seperti Engkau telah memberikan kepada-Nya kuasa atas segala yang hidup, demikian pula Ia akan memberikan hidup yang kekal kepada semua yang telah Engkau berikan kepada-Nya” (Yohanes 17:2). Hidup kekal itu pemberian Tuhan; bukan hasil usaha manusia.
Apa itu hidup kekal? “Inilah hidup kekal, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus” (Yohanes 17:3). Hidup kekal bukan sekadar kehidupan tanpa akhir, tetapi mengenal Allah yang benar dan Yesus Kristus yang diutus-Nya. Maknanya: hidup kekal adalah relasi pribadi yang mendalam dengan Allah melalui iman kepada Kristus.
Ajaran ini relevan bagi hidup Kristen. Mengapa? Karena menegaskan bahwa fokus hidup Kristen bukan ritual atau moralitas semata, melainkan tumbuh terus dalam mengenal Allah lewat doa, Firman, dan ketaatan. Pengenalan ini mengubah karakter, memberi sukacita sejati, dan membawa keselamatan yang pasti. Dengan demikian, hidup Kristen sehari-hari diarahkan untuk semakin intim dengan Allah, yang merupakan esensi hidup kekal yang sudah dimulai sekarang.
Hidup kekal itu bukan jumlah tahun atau panjangnya usia manusia, melainkan relasi dengan Tuhan. Sebagaimana relasi antara Yesus dengan Allah Bapa-Nya, demikian pula relasi kita dengan Yesus. Keduanya tidak pernah terpisah, demikian pula Yesus dari kita.
Hal itu dengan amat jelas Yesus sampaikan pada akhir Injil Matius yang kita baca pada liturgi kenaikan-Nya ke surga: “Aku menyertai kamu senantiasa sampai akhir zaman” (Matius 28:20). Ini mendorong kita untuk terus menjalin relasi pribadi yang erat dengan Yesus. Dengan demikian kita sudah mulai mengalami hidup kekal itu ketika masih berada di dunia ini. Apakah kita mulai memahami hidup kekal dan siap menghayatinya?

No responses yet