Mukjizat di Sekitar Kita

Oleh: Petter Sandjaya

Salah satu komunikasi 1 arah yang sering terjadi antara saya dan ibu saya adalah beliau sering kali membagikan cerita-cerita mukjizat yang terjadi atas nama Katolik dan Yesus yang tersebar di Facebook. Padahal belum tentu cerita-cerita mukjizat tersebut benar adanya atau diakui oleh gereja sebagai standar kebenaran sebuah mukjizat. Sorry to say buat pembaca yang kurang percaya dengan standar gereja Katolik, tapi saya pribadi mengakui bahwa para pejabat gereja Katolik di Vatikan sana sangat berbobot dan bisa dipercaya sebagai sebuah standar.

Dalam Bacaan Pertama hari minggu kemarin (1 Raja 19: 9-13), Elia dapat mengetahui ada atau tidaknya Tuhan dari setiap kehebohan di depan matanya yang terjadi tiba-tiba sejak Tuhan menyuruhnya berdiri di hadapanNya. Mulai dari angin kencang yang sampai bisa membelah gunung dan bukit batu, lalu disusul gempa, api, sampai angin sepoi-sepoi basah.

Kadang bagi mereka yang religius buta, kerinduan untuk disapa dan berinteraksi dengan Tuhan begitu besar sehingga mudah sekali percaya dan terbawa arus, ketika di sana ada yang bisa menyembuhkan dalam nama Yesus, lalu pergi ke sana. Tetapi tidak betul-betul tahu apakah Tuhan benar ada di sana. Di sisi lain, ada Petrus yang mengetahui dan diyakini oleh Yesus sendiri bahwa itu diriNya yang sedang menghampiri mereka dalam gelap di tengah ombak, masih bisa berubah pikiran dari kemustahilan yang sedang dia alami (berjalan di atas air). Mat 14: 22-33

Ngomong-ngomong soal kemustahilan, 2 Agustus kemarin, terjadi sebuah rekor baru dari sebuah kemustahilan. Bartłomiej Kubkowski, seorang perenang Ultra-Maraton asal Polandia berhasil memecahkan rekor menyeberangi Laut Baltik dari Swedia menuju pantai Dziwnow, Polandia sejauh 160 kilometer selama 55 jam, tanpa tidur, tanpa menyentuh kapal, tanpa bantuan fisik. Ini bukan percobaan pertamanya, melainkan percobaannya yang ke-lima.

Dalam hal ini saya merasa Alkitab kurang adil ya, kasihan Petrus yang mungkin hubungannya dengan Tuhan tidak sedalam Elia yang mampu memahami kehadiran Tuhan. Dan dalam percobaannya yang pertama untuk mengalami mukjizat berjalan di atas air harus kandas karena tiupan angin. Seandainya Petrus diberi kesempatan 5x seperti Bartłomiej Kubkowski, saya yakin dia bisa seperti Elia.

Tapi saya belajar sesuatu dari perikop hari minggu kemarin, bahwa Yesus sebenarnya sudah berkali-kali mengajar, berkata-kata, dan membuat mukjizat tidak seperti manusia biasa, yang seharusnya Petrus menyadari betapa dekatnya dia dengan Tuhan. Tuhan ada di sekitarnya, dan jangan-jangan Tuhan sebenarnya juga dekat di sekitar kita. Mungkin anak kita yang rewel, suami kita yang egois, istri kita yang menuntut, bahkan ibu kita yang sering share postingan mukjizat yang mengganggu mata dan ego untuk menasehati. Atau jangan-jangan Tuhan ada pada waktu seorang pengendara yang terpaksa memarkir mobilnya menutupi sebagian jalan keluar di gereja kemarin di Port Melbourne, tapi kita memarahinya dengan keras.

Semoga hari-hari kita ke depannya adalah baik, Roh Tuhan menyertai, dan yang terutama damai dan sukacita bisa kita rasakan untuk menjalani hari-hari yang jahat ini. Tuhan memberkati kita semua.

Tags:

No responses yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Latest Comments