Tantangan Mengikuti Mesias yang Sejati

Oleh Rev. Albertus Herwanta, O. Carm

Matius 16:21-27

Adakah yang masih ingat bagian penutup perikop Injil yang dibaca hari Minggu, 23 Agustus 2026 lalu? Kalau tidak ada yang ingat, beginilah bunyinya: “Lalu Yesus melarang murid-murid-Nya memberitakan kepada siapa pun bahwa Dia adalah Mesias” (Matius 16:20).

Mengapa Yesus melarang itu? Pertama, para murid-Nya belum mengetahui secara lengkap dan mendalam identitas Sang Mesias. Itu tampak dari jawaban yang muncul waktu Yesus bertanya, “Apa kata orang siapa Putra Manusia itu?” Hanya Petrus yang menjawab secara tepat. Ia mengatakan itu karena Bapa di surga yang menyatakan; bukan karena Petrus.

Kedua, Petrus, murid yang dipuji oleh Yesus pun salah memahami Mesias ketika hanya menggunakan pikirannya sendiri. Setelah Yesus berkata bahwa Dia harus pergi ke Yerusalem, menanggung banyak penderitaan dari pihak tua-tua, imam-imam kepala, dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga, Petrus menegur-Nya (Matius 16:22).

Hal itu membuat Yesus berpaling dan menyampaikan kata-kata tajam tentang Petrus, “Enyahlah Iblis! Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia” (Matius 16:23).

Apakah yang sebenarnya dipikirkan Allah? Mengikuti Yesus atau menjadi murid-Nya; bukan mengajar Yesus atau menawarkan jalan lain. Bagaimana caranya mengikuti Yesus secara benar? Menyangkal diri, memikul salib, dan mengikuti Yesus. Dua yang pertama adalah syarat untuk dapat mengikuti Yesus. Apa maksudnya?

Pertama, hendaknya orang tidak mencoba menyelamatkan dirinya sendiri. Usaha itu hanya akan berakhir dengan kehilangan diri sendiri. Kedua, orang dituntut kehilangan nyawanya untuk Yesus. Itulah satu-satunya jalan memperoleh keselamatan. Di luar itu, tidak ada jalan menuju kepada keselamatan. Bahkan memiliki seluruh dunia pun tidak akan mampu memberikan keselamatan itu.

Hanya dalam Yesus dan hidup meneladan Yesus yang berkenan kepada Allah kita dapat diselamatkan. Memuaskan diri sendiri dan berkenan kepada manusia yang sehebat dan berkuasa apa pun tidak membuahkan keselamatan sejati.

Jiwa kita akan mengalami damai dan penghiburan sejati hanya bila kita melayani Tuhan. Santo Yohanes dari Salib, menulis, “Bersukacitalah dalam Tuhan, keselamatanmu (Lukas 1:47), dan renungkan bahwa menderita bagi Tuhan adalah baik.” (Sayings of Light and Love, no.84).

Ia menuliskan ajaran itu berdasar pengalaman rohani pribadi. Itu bukan rumusan buah akal budi. Hidupnya menjadi teladan nyata orang yang menyangkal diri, memanggul salib, dan mengikuti Yesus.

Tuhan Allah menganugerahkan rahmat kepadanya karena ia menyediakan diri untuk itu. Allah yang sama juga membantu kita apabila mau melakukan yang sama. Benar, kita mampu mengikuti Yesus bukan karena diri kita, melainkan karena daya kekuatan dan rahmat dari Allah. Apakah kita siap menyangkal diri, memanggul salib, dan mengikuti Yesus?

Tags:

No responses yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Latest Comments