Oleh Rev. Albertus Herwanta, O. Carm
Yehezkiel 33:7-9; Roma 13:8-10; Matius 19:15-20
Perusahaan bukan organisasi yang hanya mencari keuntungan. Mereka mempunyai tanggung sosial (CSR). Lewat donasi atau program amal mereka membantu warga yang membutuhkan. Komunitas Kristen juga memiliki “community social responsibility” (CSR), yakni tanggung jawab warga Gereja untuk mengingatkan dan mengoreksi satu sama lain.
Orang Kristen dibaptis dan menjadi pengikut Kristus bukan hanya untuk memperoleh keselamatan pribadi. Ia dipanggil untuk ikut membangun komunitas. Salah satunya dengan ikut menyelesaikan masalah komunitas. Apa yang mesti menjiwai proses tersebut?
Pertama, kita dipanggil untuk menjadi penjaga saudara kita (Yehezkiel 33:7). Artinya, kita tidak boleh diam saja ketika melihat saudara kita melakukan kejahatan yang membawa kematian baginya. Jika kita membiarkan mereka mati, Tuhan akan menuntut tanggung jawab dari kita. Tetapi bila telah berusaha mengingatkan dan mengoreksinya, kita menyelamatkannya dan diri kita.
Kedua, sikap peduli terhadap kondisi komunitas itu menjadi tanda nyata bahwa kita mengasihi. Santo Paulus, dalam suratnya kepada jemaat di Roma, mengajarkan supaya kita saling mengasihi. Yang mengasihi sesamanya telah memenuhi hukum Taurat (Roma 13:8). Mengoreksi sesama itu tanda bahwa kita mencintai dan peduli.
Ketiga, semangat pengorbanan. Menegur sesama yang bersalah itu tidak mudah. Risikonya besar. Misalnya, ditolak atau dimusuhi. Yesus mengalaminya sendiri. Ketika menegur orang-orang Farisi, para ahli Taurat, dan imam-imam kepala, Yesus ditangkap dan disalibkan. Itu kita baca dalam Injil Matius pada hari Minggu lalu.
Keempat, kesabaran dan kebersamaan. Hari ini Tuhan Yesus mengajarkan langkah-langkah dalam menegur sesama anggota komunitas yang bersalah. Awalnya dengan menegur di bawah empat mata. Kemudian melibatkan dua atau tiga orang saksi. Akhirnya, membawa perkaranya ke dalam jemaat. Bila itu gagal juga, hendaknya kita menyerahkan perkara itu kepada Tuhan.
Empat hal di atas mengungkapkan sikap Tuhan sendiri terhadap orang-orang berdosa. Tuhan menghendaki agar mereka bertobat dan diselamatkan. Itulah misi Yesus datang ke dunia. Dia datang untuk mencari satu dari seratus domba yang tersesat. Ada sukacita besar di surga atas bertobatnya satu orang daripada atas sembilan puluh sembilan yang tidak perlu bertobat.
Santo Paulus menyadari tanggung jawab sosial komunitas itu dan berkata, “Dalam Kristus Allah mendamaikan dunia dengan Diri-Nya, dan Ia telah memercayakan berita pendamaian itu kepada kami” (2 Korintus 5:19). Seruan bait pengantar Injil hari ini menegaskan tanggung jawab sosial komunitas itu. Apakah dalam sikap penuh kasih kita siap menjalankan tugas itu dalam komunitas?

No responses yet