Oleh Rev. Albertus Herwanta, O. Carm
Apa yang membedakan Allah dari manusia? Banyak sekali. Sebagian kita temukan dalam firman Tuhan pada hari ini. Tuhan berbeda dari manusia dalam memandang hidup dan kesalahan manusia.
Dalam Yesaya 58:9b-14 dan Lukas 5:23-32, Allah menunjukkan sikap yang positif terhadap manusia dan kelemahannya. Allah mengajak manusia untuk melakukan hal yang sama.
“Tuhan akan menuntun engkau senantiasa dan akan memuaskan hatimu di tanah yang kering, dan akan membarui kekuatanmu” (Yesaya 58:11). Tuhan melakukan hal itu bagi mereka yang tidak mengenakan kuk kepada sesama dan menunjuk-nunjuk orang lain dan memfitnah (Yesaya 58:9b).
Yang dikatakan Nabi Yesaya itu terwujud dalam diri Yesus, manusia sempurna. Melihat Lewi duduk di rumah cukai, Yesus tidak menunjuk-nunjuk dosa dan kesalahannya, melainkan memanggil agar mengikuti-Nya. Lebih dari itu, Yesus duduk makan bersama para pemungut cukai di rumah Lewi.
Dalam pandangan orang Farisi dan ahli Kitab, hal itu merupakan kesalahan dan pelanggaran agama yang amat besar. Melihat hal itu mereka menunjuk-nunjuk kesalahan dan gusar. Lalu bertanya kepada murid-murid Yesus, “Mengapa kamu makan dan minum bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?” (Lukas 5:30).
Jawaban Yesus menunjukkan bedanya Allah dari manusia. “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit. Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat” (Lukas 5:31).
Manusia lebih suka menunjuk-nunjuk kesalahan orang tanpa memberikan cara memperbaikinya. Manusia lebih menjauhi orang bersalah daripada mendekat dan membantu memperbaikinya. Tetapi Allah melakukan yang sebaliknya: Dia mendekat dan memanggilnya agar mengikuti Dia. Artinya, memberi kesempatan untuk bertobat dan menyelamatkannya.
Sabda Tuhan pada hari keempat masa prapaskah ini mengajak kita untuk melihat dan percaya kepada Allah yang berbelas kasih dan mencintai manusia berdosa. Dia tidak membiarkan kita yang berdosa ini binasa, melainkan mencari belas kasih, pengampunan, dan keselamatan-Nya.
Apakah kita suka menunjuk-nunjuk kesalahan sesama? Apakah kita putus asa melihat dosa-dosa yang berulang-ulang kita lakukan? Mari kita berdoa bersama pemazmur, “Tunjukkanlah kepadaku jalan-Mu, ya Tuhan, supaya aku hidup menurut kebenaran-Mu”

No responses yet