Berdoa Dalam Ketekunan

Oleh Rev. Albertus Herwanta, O. Carm

Doa itu terkait erat dengan iman. Kualitas dan kematangan iman tercermin dalam doa-doa kita. Ketekunan yang ditunjukkan dalam percakapan Abraham dengan Tuhan (Kejadian 18:20-33) dan ajaran Yesus tentang doa (Lukas 11:1-13) bisa dibaca dalam kerangka tersebut. Apa yang dapat kita pelajari dari Sabda Tuhan hari ini?

Mari kita gali lebih dulu ketekunan Abraham yang mengandung tiga pelajaran. Pertama, ketegasan dalam doa. Percakapan Abraham dengan Tuhan menunjukkan ketegasan dan kepercayaan diri dalam mendekati Tuhan, bahkan ketika membahas rencana dan keputusan Tuhan.

Kedua, permohonan bagi orang lain. Ketekunan Abraham dalam berdoa dimotivasi oleh keinginan untuk mendoakan orang lain (penduduk Sodom dan Gomora). Doanya itu menunjukkan betapa pentingnya menjadi perantara bagi orang lain.

Ketiga, negosiasi dengan Tuhan. Abraham melakukan tawar-menawar dengan Tuhan. Tindakan ini terkesan seperti mau mencampuri keputusan Tuhan. Namun sesungguhnya itu tetap menunjukkan batas-batas negosiasi manusia dengan Tuhan, karena keputusan Tuhan bersifat pasti.

Sekarang kita beralih ke ajaran Yesus tentang ketekunan dalam doa. Di sana, Yesus menekankan dua hal. Yang pertama adalah pentingnya meminta, mencari, dan mengetuk. Yesus mengajarkan murid-murid-Nya untuk tekun dalam berdoa, menggunakan frasa “mintalah,” “carilah,” dan “ketuklah” (Lukas 11:9-10). Dia menekankan pentingnya ketekunan dan kegigihan dalam berdoa.

Selanjutnya, Yesus mendorong murid-murid-Nya untuk percaya pada kebaikan Tuhan. Dia membandingkannya dengan seorang ayah yang memberikan pemberian yang baik kepada anak-anaknya (Lukas 11:11-13). Iman akan kebaikan Tuhan ini adalah dasar bagi doa yang tekun.

Bagaimana kita membaca relevansi pesan sabda hari ini bagi kehidupan Kristen? Sebagai orang Kristen, kita perlu bertekun dalam berdoa dan tidak mudah menyerah ketika menghadapi tantangan atau ketidakpastian. Doa sering menjadi batu ujian bagi iman kita. Iman yang matang dan dewasa akan membuat orang tekun dalam doa-doanya, terlebih saat doanya terkesan tidak dikabulkan.

Di samping itu, kita perlu percaya pada kebaikan Tuhan. Ketekunan dalam doa berakar pada sikap percaya akan kebaikan Tuhan dan keinginan-Nya untuk memberikan yang terbaik kepada anak-anak-Nya. Dia memberikan yang terbaik pada saat yang terbaik pula. Artinya, Tuhan memberikannya sesuai dengan waktu Tuhan; bukan waktunya manusia.

Sabda Tuhan pada hari ini juga mengajar agar kita menjadi seperti Abraham. Orang Kristen dipanggil untuk mendoakan orang lain dan menunjukkan kasih serta perhatian bagi mereka yang ada di sekitarnya. Dalam perayaan Ekaristi, Gereja senantiasa berdoa bagi mereka yang Katolik dan tidak Katolik, bagi komunitas Gereja Katolik dan kepentingan warga seluruh dunia.

Akhirnya, pesan Sabda Tuhan hari ini mengundang kita untuk memperdalam hubungan dengan Tuhan. Doa yang tekun dapat memperdalam relasi pribadi seseorang dengan Tuhan. Relasi itu menumbuhkan rasa ketergantungan pada-Nya dan kepercayaan pada kedaulatan-Nya.

Bagaimanakah doa kita selama ini? Apakah kita bertekun dalam doa? Semoga iman kita mendorong kita untuk berdoa dalam ketekunan.

Tags:

Comments are closed

Latest Comments