Buah-Buah Pertobatan.Sejati

Oleh Rev. Albertus Herwanta, O. Carm

Sabda Tuhan pada Minggu Advent I mengajak kita untuk senantiasa berjaga-jaga. Artinya, kita memanfaatkan setiap detik sebagai kesempatan untuk makin percaya kepada-Nya dan mensyukuri setiap momen sebagai anugerah Tuhan.

Masa Adven Minggu Kedua mengarahkan pandangan kita kepada Yohanes Pembaptis. Pesannya yang tegas“Bertobatlah, sebab Kerajaan Surga sudah dekat.” Bisa jadi pesan itu terasa mengganggu di tengah gemerlap lampu masa Adven ini. Namun, itulah dasar rohani yang penting untuk Natal yang benar-benar merupakan sukacita. Hiasan terindah masa Adven adalah pertobatan.

Adven bukan sekadar menghitung hari untuk menyambut natal, melainkan masa persiapan yang aktif. Seruan Yohanes mengingatkan kita bahwa mempersiapkan kedatangan Kristus memerlukan pembersihan batin. “Bertobat” (metanoia) berarti mengubah pikiran dan menghadapkan hati kepada Allah. Misalnya, dengan memeriksa batin secara tulus dan terencana, di mana kita bertanya tentang kapan aku telah menyimpang dan tidak setia kepada Tuhan? Kesombongan, kebencian, atau sikap egois apa yang menghalangi jalan bagi Tuhan untuk masuk ke dalam jiwaku? Bertobat adalah langkah pertama yang penting untuk menyediakan tempat penginapan bagi Tuhan dalam hati kita.

Tetapi Yohanes juga menegaskan bahwa persiapan kita tidak boleh hanya berhenti di situ. “Hasilkanlah buah yang sesuai dengan pertobatan.” Apa maksudnya buah pertobatan? Pertobatan batin yang sejati mesti menjadi tindakan nyata. Dengan demikian, persiapan Adven tampak dalam hidup sehari-hari.

Misalnya, mengganti kata-kata kasar dengan kebaikan dan kelembutan, sikap tidak sabar dengan pengertian dan kedamaian, serta sikap tidak peduli dengan perhatian dan kemurahan hati. “Buah yang baik” adalah kasih nyata yang kita tunjukkan—lewat kesabaran dalam keluarga, tindakan amal, dan karya-karya kasih serta keadilan.

Panggilan ganda ini—perubahan batin dan lahir—mempersiapkan kita secara utuh dan sistematis. Kita membersihkan rumah rohani kita melalui pertobatan, lalu menghiasinya dengan kehidupan kasih yang aktif. Adven itu bukan aktivitas seremonial dan ritual, melainkan tindakan sosial yang mengubah kehidupan bersama, mulai dari keluarga, komunitas gereja, dan dunia.

Dengan melakukan ini, kita tidak mempersiapkan diri untuk kenangan yang tersimpan dalam bayangan yang jauh, tetapi untuk realitas yang hidup konkret. Allah datang kepada kita sekarang dalam Firman, sakramen, dan sesama. Ketika Natal tiba, kita akan menyambutnya sebagai orang yang telah diperbarui, dengan hati yang benar-benar siap menerima Sang Sukacita bagi dunia.

Tags:

Comments are closed

Latest Comments