Oleh Rev. Albertus Herwanta, O. Carm
Orang beriman menghadapi banyak tantangan dan kesulitan. Ada yang menghadapinya secara positif, ada yang secara negatif meresponnya. Orang yang kedua biasanya berakhir dalam rasa frustrasi dan meninggalkan Tuhan. Sedang mereka yang menghadapinya secara positif keluar sebagai pemenang; bahkan orang kudus yang besar.
Hari kita akan belajar dari para rasul dan seorang kudus tentang cara menghadapi tantangan hidup Kristen. Ketika para rasul merasa kewalahan oleh ajaran Yesus yang menantang (Lukas 17:4), mereka berseru, “Tuhan, tambahkanlah iman kami!” (Lukas 17:5). Itu adalah doa yang pernah kita panjatkan juga saat merasa frustrasi atau lemah. Kita sering mengira iman kita terlalu kecil dan perlu diperbesar untuk menghadapi badai kehidupan. Namun, jawaban yang diberikan Yesus, dan yang dihidupi dengan indah oleh Santa Theresia dari Lisieux, membalikkan pemikiran ini.
Yesus menjawab, “Sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi… tidak ada yang mustahil bagimu.” Dia tidak mengabaikan permintaan mereka; Dia mendefinisikan ulang arti iman. Kuasanya tidak terletak pada besarnya iman yang kita miliki, tetapi pada kuasa Allah yang tak terbatas tempat kita menaruh iman itu. Benih kepercayaan yang murni dan kecil, ketika ditanam dalam Allah, cukup untuk memindahkan gunung.
Inilah inti dari “Jalan Kecil” Santa Theresia dari Lisieux. Ia rindu menjadi seorang santa tetapi merasa tak mampu karena kelemahannya sendiri. Akhirnya, ia menyadari bahwa ia tidak perlu melakukan perbuatan-perbuatan besar dan heroik. Sebaliknya, ia bisa merangkul “keterkecilannya” dengan percaya penuh, seperti seorang anak yang tertidur lelap dalam pelukan ayahnya. Perjalanannya bukanlah tentang menjadi hebat, tetapi tentang melakukan hal-hal kecil dan biasa—seperti menunjukkan kesabaran atau kebaikan saat itu sulit—dengan cinta yang luar biasa. Saat merasa tidak mampu, ia hanya meminta Yesus untuk mengasihi melalui dirinya.
Sabda Yesus dan kehidupan Theresia menawarkan sebuah visi yang membebaskan. Iman bukanlah tentang kepastian mutlak atau hidup tanpa keraguan; iman adalah tentang percaya. Allah tidak menuntut iman yang besar dan sempurna dari kita. Dia hanya meminta kepercayaan yang kecil dan tulus yang dapat kita persembahkan kepada-Nya saat ini. Bahkan iman yang sekecil biji sesawi, ketika diungkapkan melalui tindakan kasih sehari-hari, sudah lebih dari cukup bagi Allah untuk mengerjakan mukjizat di dalam dan melalui kita.
Iman kecil yang dijiwai semangat cinta yang besar membuahkan hal-hal yang besar dan luar biasa. Ini bukan teori, tetapi hal yang dalam diri orang-orang kudus sungguh terjadi.
Tuhan, kupersembahkan pada-Mu imanku yang kecil dan kelemahanku. Tolonglah aku untuk percaya, seperti St. Theresia, bahwa dalam keterkecilanku, kuasa-Mu menjadi sempurna. Amin.

Comments are closed