Oleh Rev. Albertus Herwanta, O. Carm
Hampir semua orang ingin menduduki tempat yang sungguh terhormat. Namun tidak semua orang berhasil meraihnya. Hanya mereka yang mengetahui jalannya dan mau menempuhnya akan meraih kehormatan sejati dan tertinggi. Bagaimana orang bisa sampai ke sana?
Sabda Tuhan hari ini mengajarkannya kepada kita. Bacaan pertama mengajarkan agar “Makin besar engkau, patutlah makin kaurendahkan dirimu, supaya engkau mendapat karunia di hadapan Tuhan” (Sirakh 3:18). Mendapat karunia di hadapan Tuhan merupakan kehormatan tertinggi. Kitab Putera Sirakh menegaskan bahwa jalan untuk menduduki kehormatan tertinggi adalah merendahkan diri.
Injil hari ini (Lukas 14:1.7-14) mengajarkan hal serupa, meski dalam konteks yang berbeda. Kehormatan tertinggi itu tampak dalam suatu pesta, yakni dalam kursi yang diduduki para tamu. Bagaimana orang dapat menduduki kursi itu? Sebagian besar orang memperebutkan itu untuk dirinya sendiri (Lukas 14:7).
Melihat para tamu dalam pesta yang dihadiri-Nya berebut kursi kehormatan, Tuhan Yesus bersabda, “Kalau engkau diundang ke pesta perkawinan, janganlah duduk di tempat kehormatan, sebab mungkin orang itu telah mengundang seorang yang lebih terhormat dari pada engkau” (Lukas 14:8).
Yesus mengajarkan supaya orang tidak menempatkan dirinya pada posisi yang tinggi. Alasan moral yang Yesus ajarkan sangat benar dan mendasar, “Sebab siapa saja yang meninggikan diri akan direndahkan, dan siapa yang merendahkan diri akan ditinggikan” (Lukas 14:11). Tentang orang yang suka meninggikan diri Yesus bersabda juga, “Sebab barangsiapa meninggikan diri akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri akan ditinggikan” (Lukas 18:14).
Bacaan pada hari ini berbicara tentang kerendahan hati. Yang pertama kerendahan hati yang terkait dengan yang manusia telah peroleh. Misalnya, keberhasilan dalam studi, bisnis, karir, atau jabatan. Semakin besar atau tinggi perolehannya, semakin orang hendaknya merendahkan diri. Karena semua itu adalah anugerah Tuhan, orang tidak perlu menggunakannya untuk menyombongkan diri di hadapan sesamanya.
Yang kedua hanya kepada orang yang rendah hati Tuhan menganugerahkan karunia tertinggi. Sikap rendah hati itu serupa dengan membiarkan gelas kosong agar dapat diisi. Orang yang rendah hati selalu membuat hatinya kosong agar Tuhan dapat mengisi dengan rahmat-Nya dan mengangkatnya ke tempat tertinggi.
Dalam hal ini, kita dapat belajar dari Yesus yang kendati memiliki posisi yang amat tinggi, yakni serupa dengan Allah telah mengosongkan diri-Nya. Dia rela menjadi miskin atau kosong sehingga Allah mengangkat-Nya ke tempat yang tertinggi. Demikian Santo Paulus menulisnya dalam suratnya kepada jemaatnya (Filipi 2:1-11).
Singkat kata, kehormatan tertinggi dan sejati bukanlah buah dari usaha manusiawi yang penuh ambisi, melainkan karunia Tuhan yang maha tinggi. Karunia itu diberikan kepada mereka yang mau mengosongkan diri dan bersikap rendah hati. Artinya, orang yang mau menduduki posisi yang paling rendah. Kepada orang macam inilah Tuhan bersabda, “Sahabat, silakan duduk di tempat yang lebih terhormat” (Lukas 14:10). Apakah kita mau menduduki posisi terendah di dunia supaya Tuhan memberikan kehormatan tertinggi dan sejati?

Comments are closed