Kemerdekaan Kristiani Nan Sejati

Oleh Rev. Albertus Herwanta, O. Carm

Setiap tanggal 17 Agustus, Gereja Katolik di Indonesia merayakan misa syukur atas kemerdekaan Indonesia. Dalam liturgi sabda dibacakan surat Santo Petrus yang berisi tentang kebebasan Kristiani nan sejati. Apa yang diajarkan oleh Santo Petrus?

Kita menemukannya pada 1 Petrus 2:16 yang bunyinya, “Hiduplah sebagai orang-orang bebas, tetapi janganlah kamu menjadikan kebebasanmu sebagai kesempatan untuk hidup dalam dosa; sebaliknya, hiduplah sebagai hamba-hamba Allah.” Dia mengajarkan tiga pelajaran penting.

Pertama, dia menegaskan arti kebebasan sejati. “Hiduplah sebagai orang-orang bebas.” Orang Kristen pada dasarnya bebas, karena Kristus telah menebusnya. Kita bebas dari mana dan untuk apa? Kita dibebaskan dari kuasa dosa, hukuman, rasa takut akan kematian, dan tirani kejahatan. Kita dibebaskan untuk hidup baru dalam hubungan dengan Allah dan agar taat kepada Tuhan didorong oleh kasih dan pelayanan kepada orang lain.

Kedua, dia memperingatkan agar kita tidak menyalahgunakan kebebasan. “Janganlah kamu menjadikan kebebasanmu sebagai kesempatan untuk hidup dalam dosa.” Ini peringatan penting, karena kebebasan Kristiani bukan otonomi absolut dan alasan untuk bersikap egois, memberontak, berdosa, atau merugikan orang lain. Jangan sampai menggunakan kebebasan untuk bertindak jahat.

Ketiga, Santo Petrus menggarisbawahi tujuan kebebasan Kristiani. “Hiduplah sebagai hamba-hamba Allah.”
Kebebasan sejati menemukan ekspresi tertinggi bukan dalam sikap egois, tetapi dalam penyerahan diri dan pelayanan kepada Allah dengan sukarela dan hati gembira.

Lalu, apa pesan surat Santo Petrus ini? Santo Petrus menegaskan kebebasan untuk melayani secara bertanggung jawab.Kebebasan Kristen bukan tujuan akhir, tetapi diberikan agar kita dapat hidup secara benar, mengasihi orang lain, dan efektif melayani Allah. Kita perlu bertanggung jawab atas cara kita menggunakan kebebasan kita.

Selanjutnya, kita mesti menghindari legalisme alias hidup hanya berdasarkan aturan. Kristus telah membebaskan kita dari hukum lama. Di samping itu, jangan menyalahgunakan anugerah dengan mengklaim kebebasan sebagai alasan untuk berdosa (“Allah mengampuni, jadi tidak masalah”).

Akhirnya, kita dipanggil menggunakan kebebasan dengan bertanggung jawab, melayani orang lain, menghormati otoritas, berbuat baik, menghindari kejahatan yang menyamar sebagai kebebasan. Semua itu kesaksian yang kuat kepada dunia tentang sifat kebebasan sejati yang ditemukan dalam Kristus.

Ajaran ini amat relevan bagi rakyat Indonesia yang merayakan tahun ke-80 kemerdekaan Indonesia. Mengapa sudah delapan dekade merdeka dari penjajah kita belum sungguh maju, berkembang, dan sejahtera? Jangan-jangan selama ini kebebasannya disalahgunakan untuk berbuat dosa seperti malas, semaunya, korupsi, dan tindakan negatif lainnya. Bila itu yang terjadi, negeri tercinta.amat membutuhkan kemerdekaan Kristiani nan sejati.

Tags:

Comments are closed

Latest Comments