Kerendahan Hati, Iman, dan Ketaatan

Oleh Rev. Albertus Herwanta, O. Carm

Sabda Tuhan hari Minggu Biasa ke-28, Tahun C, mewartakan kasih karunia Allah yang disambut dengan sikap rendah hati, iman, dan ketaatan. Karunia itu menyembuhkan tubuh dan jiwa. Kisah Naaman orang Siria dan kesepuluh orang kusta bukanlah mukjizat kuno; mereka itu melukiskan perjalanan menuju keutuhan sempurna yang tampak dalam tiga kasih karunia.

Kasih Karunia Kerendahan Hati: Pintu Gerbang Menuju Belas Kasihan

Perjalanan itu dimulai dengan kerendahan hati. Baik Naaman, sang panglima tentara, maupun kesepuluh orang kusta dibawa ke titik rendah yang sama: mereka tidak berdaya menyelamatkan diri mereka sendiri. Penyakit kusta di dunia kuno adalah penyakit fisik yang mewakili kondisi spiritual dosa—sebuah keadaan najis yang mengasingkan penyandangnya.

Kerendahan hati itu karunia untuk mengakui kebenaran bahwa penyerahan diri yang menyakitkan diperlukan untuk memulihkan diri. Naaman harus menundukkan rasa bangga atas posisi dan kebangsaannya dan mengikuti perintah sederhana yang terasa meremehkannya: membasuh diri di Sungai Yordan. Orang-orang kusta harus berdiri dari jauh dan berseru, “Yesus, Guru, kasihanilah kami!” Seruan ini adalah doa dasar dari orang berdosa, yang membuka pintu bagi belas kasihan Allah. Tanpa sikap rendah hati, tidak mungkin orang disembuhkan.

Kasih Karunia Iman dan Ketaatan: Jembatan Menuju Kesembuhan

Tanggapan Allah terhadap seruan kita sering kali datang dalam perintah yang membutuhkan sikap taat; penuh iman. Di sinilah keyakinan menjadi tindakan. Elisa tidak melakukan ritual yang luar biasa untuk Naaman; dia memberinya sebuah instruksi sederhana. Yesus tidak menyembuhkan orang-orang kusta di tempat yang hebat. Dia berkata kepada mereka, “Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam-imam.”

Iman sejati bukanlah sikap pasif, melainkan sikap taat yang aktif. Iman berarti mempercayai bahwa firman Allah itu cukup untuk mengatasi penyakit, bahkan ketika kesembuhan itu belum terlihat. Orang-orang kusta itu menjadi tahir sementara mereka dalam perjalanan. Naaman disembuhkan setelah ia membenamkan diri. Ketaatan mereka adalah ungkapan aktif dari iman, sarana yang tepat untuk mengalirkan kuasa Allah yang menyembuhkan. Sinergi iman dan ketaatan membangun jembatan, tempat kasih karunia Allah bergerak dari janji menjadi kenyataan dan mempengaruhi baik pemulihan fisik maupun pertumbuhan spiritual.

Kasih Karunia Keselamatan: Keutuhan Tubuh dan Jiwa

Klimaks dari Injil mengungkapkan bahwa yang diperlukan bukan hanya kesembuhan fisik, tetapi keselamatan. Kesepuluh orang kusta menerima kesembuhan fisik yang mereka minta—tubuh mereka menjadi tahir. Tetapi hanya satu orang, orang Samaria yang kembali untuk mengucap syukur, yang mendengar kata-kata, “Imanmu telah menyelamatkan engkau.”
Orang bisa mengalami mukjizat (disembuhkan secara fisik), namun tidak secara utuh diselamatkan ketika tidak bersyukur dan beriman.

Kesimpulan: Jalan Menuju Keutuhan

Bacaan-bacaan ini mengajarkan kita bahwa Allah ingin menyelamatkan kita seutuhnya—tubuh dan jiwa. Jalan menuju keutuhan ini dilapisi dengan kasih karunia yang harus kita terima secara aktif. Itu meliputi tiga hal. Pertama, kerendahan hati yang memungkinkan kita melihat kebutuhan kita akan seorang Juruselamat. Kedua, iman yang meyakini bahwa Allah memenuhi janji belas kasihan-Nya. Ketiga, ketaatan yang bertindak berdasarkan iman dan mengarah pada kesembuhan kita.

Perjalanan menuju keutuhan dan keselamatan memuncak dalam penyembahan yang penuh syukur, yang mengubah transaksi dari mukjizat yang diterima menjadi hubungan seumur hidup dari jiwa yang diselamatkan. Itu tampak dalam Ekaristi. Saat kita mengambil bagian dalam Ekaristi (ucapan syukur yang tertinggi), kita menghidupi perjalanan ini, mendekat kepada Tuhan dengan kerendahan hati, menerima dengan iman, dan menaati perintah “lakukanlah ini sebagai peringatan akan Aku,” sehingga kita juga dapat mendengar kata-kata yang menganugerahkan keselamatan: “Imanmu telah menyelamatkan engkau.” Apakah kita merayakan Ekaristi dengan tiga sikap di atas?

Tags:

Comments are closed

Latest Comments