Kristus, Raja Semesta Alam

Oleh Rev. Albertus Herwanta, O. Carm

Perayaan Kristus Raja Semesta Alam menghadirkan kontras antara dua jenis kerajaan yang sangat berbeda: dinasti politik duniawi Raja Daud dan kedaulatan kosmis kekal Yesus Kristus. Bacaan liturgi pada pesta ini menelusuri sebuah garis perjalanan yang jelas, bergerak dari monarki manusiawi menuju pemerintahan ilahi yang didefinisikan oleh kasih yang transformatif, yang pada akhirnya mengungkapkan sebuah kekuasaan raja yang membalikkan dan mendefinisikan ulang semua konsep duniawi tentang kekuasaan.

Renungan kita kali ini dimulai dari Kitab Kedua Samuel dengan pengurapan politik Daud. Suku-suku Israel datang kepadanya, mengakui ikatan darah mereka dan, yang terpenting, kepemimpinan militernya: “Engkaulah yang memimpin dan membawa umat Israel.”

Kerajaan Daud secara resmi didirikan melalui sebuah perjanjian kudus yang dibuat “di hadapan TUHAN.” Namun, terlepas dari semua pengesahan ilahinya, kerajaan itu tetaplah sebuah lembaga manusiawi. Ia adalah kerajaan yang ditentukan oleh batas-batas geografis, kampanye militer, dan tata kelola dari dunia yang rapuh. Meskipun ia menunjuk kepada penggenapan yang lebih besar di masa depan yang dijanjikan oleh Allah, kerajaan itu pada dasarnya terbatas dan tidak mampu bertahan hingga akhir dengan usahanya sendiri.

Penggenapan yang dijanjikan ini diungkapkan secara mengesankan dalam Surat kepada Jemaat di Kolose, yang benar-benar membuat kita memahami kekuasaan raja. Di sini, Kristus dihadirkan bukan hanya sebagai penguasa atas satu bangsa, tetapi sebagai “gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung, lebih utama dari segala yang dijadikan.” Kedaulatan-Nya bukanlah teritorial melainkan berskala kosmis; “segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia.” Ia adalah sumber, penopang, dan sekaligus tujuan akhir dari segala yang ada.

Kekuasaan raja ini tidak direbut dengan pedang, tetapi didirikan melalui pengorbanan mendalam dari Salib, “dan memperdamaikan segala sesuatu dengan diri-Nya, … oleh darah salib Kristus.” Otoritas tertinggi-Nya tidak berakar pada dominasi, tetapi pada kekuatan-Nya dalam kasih dan penebusan.

Injil Lukas membawa realitas kosmis yang luas ini ke dalam fokus yang mengejutkan dan mendalam. Sang Raja dimahkotai bukan dengan emas, tetapi dengan duri; takhta-Nya adalah kayu Salib yang brutal. Pada momen penderitaan-Nya yang ekstrem, diapit oleh para penjahat yang dihukum, kuasa ilahi-Nya diwujudkan dengan cara yang tak terduga: melalui belas kasihan yang radikal.

Firman-Nya kepada penjahat yang bertobat, “hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus,” menjadi wahyu tertinggi dari kekuasaan raja-Nya. Ia tidak menggunakan kuasa-Nya untuk menyelamatkan diri-Nya sendiri; Ia menggunakannya untuk menyelamatkan orang lain. Ia bertakhta bukan dengan menghancurkan yang bersalah, tetapi dengan mengampuni mereka. Kuasa-Nya disempurnakan dalam kerapuhan total, dan kemenangan-Nya dicapai melalui kasih pengosongan diri sepenuhnya.

Kesimpulannya, kerajaan Daud adalah bayangan yang dilemparkan ke depan dalam waktu, sedangkan Kerajaan Kristus adalah substansi yang kekal. Kerajaan Daud dipertahankan dengan kekuatan dan kecakapan politik; kerajaan Kristus didirikan dalam kasih karunia dan pengorbanan. Daud memerintah dari takhta istana; Kristus bertakhta di atas Salib.

Pada hari raya ini, kita dipanggil untuk mengakui bukan seorang penguasa politik yang jauh, tetapi jantung dari segala realitas—seorang Raja yang hukum dasarnya adalah kasih, yang tongkat kuasanya adalah belas kasihan, dan yang takhtanya adalah kayu Salib. Dari sana, Ia menarik seluruh umat manusia kepada diri-Nya dalam pelukan kasih yang kekal. Apakah kita percaya kepada Kristus, Raja Semesta Alam?

Tags:

Comments are closed

Latest Comments