Oleh Rev. Albertus Herwanta, O. Carm
Kisah Rasul 10:34a.37-43; Kolose 3:1-4; Yohanes 20:1-9
Tiga bacaan pada Misa Paskah pagi ini menegaskan kebangkitan Yesus sebagai dasar iman dan panggilan untuk hidup baru.
Dalam Kisah Para Rasul 10:34a.37-43, Petrus menyaksikan bahwa Yesus, yang diurapi Allah, telah dibangkitkan pada hari ketiga.
Para rasul menjadi saksi bahwa semua orang yang percaya kepada-Nya menerima pengampunan dosa melalui nama-Nya. Ini menunjukkan bahwa kebangkitan bukan sekadar peristiwa historis, melainkan dasar keselamatan.
Surat Paulus kepada jemaat di Kolose mengajak: “Carilah perkara yang di atas, di mana Kristus duduk di sebelah kanan Allah.” Kebangkitan mengubah orientasi hidup orang Kristen dari hal-hal duniawi kepada realitas surgawi.
Hidup kita “tersembunyi bersama Kristus dalam Allah”, dan kelak akan dinyatakan dalam kemuliaan. Artinya, kebangkitan bukan hanya masa lalu, tetapi realitas masa kini yang membentuk cara berpikir, bertindak, dan berharap. Hidup kita tidak lagi hanya untuk mencari perkara duniawi.
Yohanes 20:1-9 menggambarkan Maria Magdalena, Petrus, dan Yohanes yang mendapati kubur kosong. Mereka belum memahami Kitab Suci bahwa Yesus harus bangkit. Kubur kosong adalah tanda awal, tetapi iman lahir ketika mereka “melihat dan percaya”. Kebangkitan mengalahkan maut dan memberi makna baru pada kehidupan.
Kebangkitan Yesus membawa minimal tiga pesan relevan untuk hidup kita. Pertama, kebangkitan membebaskan kita dari kuasa dosa dan ketakutan akan maut, sehingga kita hidup dalam sukacita dan berani bersaksi. Orang Kristen sejati bukan penakut!
Kedua, kita dipanggil untuk “mencari perkara di atas” dan diajak kritis terhadap gaya hidup materialistis dan hedonis. Kita diundang mengutamakan keadilan, kasih, dan kekudusan.
Ketiga, kubur kosong mengingatkan bahwa iman tidak berhenti pada bukti fisik, tetapi pada relasi pribadi dengan Kristus yang hidup. Iman itu melebihi pengetahuan dan merupakan relasi pribadi kita dengan Yesus.
Paskah menggerakkan kita untuk bangkit dari hidup rohani yang lesu dan bangkit meneladani Kristus dalam pelayanan, serta mengarahkan hati pada kerajaan Allah yang sudah dekat. Dengan demikian, kebangkitan bukan sekadar ajaran, tetapi daya yang mengubah hidup kita. Iman akan kebangkitan menjadi kekuatan dalam menjalani hidup dengan segala tantangan dan kesulitannya. Alleluia.

Comments are closed