Menanti Sambil Berjaga

Oleh Rev. Albertus Herwanta, O. Carm

Hari ini kita memulai masa adven yang adalah saat penantian dan harapan. Seruan untuk berjaga-jaga dan hidup dalam terang untuk menyambut kedatangan Tuhan menghubungkan tiga bacaan Minggu Adven pertama.

Yesaya 2:1-5 menubuatkan zaman ketika semua bangsa akan berduyun-duyun ke rumah Tuhan untuk belajar jalan-Nya. Pusat dari visi ini adalah transformasi: “Mereka akan menempa pedang-pedangnya menjadi mata bajak, dan tombak-tombaknya menjadi pisau pemangkas.” Ini gambaran sempurna tentang damai sejahtera Allah yang memulihkan segala sesuatu. Visi ini adalah kompas pengharapan. Di tengah dunia yang penuh konflik, ketidakadilan, dan permusuhan, kita diingatkan bahwa tujuan akhir sejarah adalah damai sejahtera di dalam Kristus. Kita dipanggil untuk menjadi pelaku perdamaian—mengubah “pedang” prasangka, kebencian, dan keserakahan kita menjadi “mata bajak” yang membajak hati dan masyarakat untuk ditaburi benih kasih dan keadilan.

Dalam Roma 13:11-14, Rasul Paulus menggunakan metafora yang kuat dan mendesak jemaat untuk meninggalkan “perbuatan-perbuatan kegelapan” dan mengenakan “senjata terang.” Seruan “bangunlah dari tidurmu” ini sangat relevan bagi kehidupan Kristen masa kini. Kita mudah tertidur dalam rutinitas ibadah, kesibukan duniawi, dan hiburan yang meninabobokan. Adven mengingatkan kita bahwa hidup kita adalah perjalanan menuju pertemuan dengan Mempelai Pria. Kita mesti berjaga dan hidup dalam terang—yaitu hidup dalam Kristus yang ditandai dengan moralitas, kesederhanaan, dan kasih yang tulus.

Injil Matius 24:37-44 memberitakan tentang Yesus yang mengingatkan kita bahwa kedatangan-Nya akan seperti pada zaman Nuh—orang sibuk dengan urusan duniawi hingga mereka tidak siap. Peringatan-Nya tegas: “Karena itu berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu pada hari mana Tuhanmu datang.” Pesan ini bukan untuk menakut-nakuti, melainkan untuk membangun spiritualitas kewaspadaan yang aktif. Hidup berjaga-jaga berarti hidup dengan kesadaran penuh bahwa setiap detik merupakan anugerah dan setiap momen adalah kesempatan untuk setia. Dalam konteks saat ini, “pencuri di malam hari” bisa berupa kematian yang tak terduga, krisis yang tiba-tiba, atau kedangkalan spiritual yang menggerogoti iman tanpa kita sadari. Kita dipanggil untuk tidak hanya sibuk, tetapi sibuk dalam hal yang bernilai kekal—melayani, mengasihi, dan memperdalam relasi dengan Tuhan.

Ketiga bacaan ini merangkum tiga pesan relevan dan utuh untuk Adven:

  1. Melihat dengan mata pengharapan (Yesaya): Kita menjalani hidup dengan visi akhirat, meyakini bahwa karya Kristus akan memulihkan segalanya secara total.
  2. Hidup dalam terang (Roma): Kita menanggapi pengharapan itu dengan transformasi hidup, meninggalkan dosa dan mengenakan Kristus dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan.
  3. Berkarya dalam kewaspadaan (Matius): Kita mempraktikkan iman dengan setia dan produktif, siap kapan pun Tuhan datang.

Minggu Adven I ini mengajak kita untuk memulai perjalanan rohani dengan mata tertuju pada pengharapan, kaki yang melangkah dalam terang, dan hati yang berjaga-jaga dalam kasih dan pelayanan. Marilah kita menyambut masa penantian ini bukan dengan pasif, tetapi dengan semangat bertobat, berharap, dan siap sedia menyambut Sang Terang Dunia

Tags:

Comments are closed

Latest Comments