Menjadi Pewarta Yesus

Oleh Rev. Albertus Herwanta, O. Carm

Mengapa Gereja membaca Yohanes 9: 1-41 pada hari Minggu Prapaskah IV? Banyak motivasi dan tujuan di baliknya. Salah satunya ialah untuk mempersiapkan para calon baptis: menuntun mereka untuk mengenal dan percaya kepada Yesus. Kisah ini mirip dengan cerita dalam Injil hari Minggu lalu (Wanita Samaria yang berjumpa Yesus).

Bagi kita yang berada dalam masa prapaskah, apa relevansi dan pesannya? Masa ini merupakan saat tepat untuk bertobat. Kisah pararel wanita Samaria dan orang yang lahir buta membantu kita memaknai pertobatan dan mencoba menghayatinya.

Keduanya bertemu dalam kegelapan fisik dan sosial. Wanita Samaria itu terbuang karena perilaku moralnya. Orang buta itu terbuang karena sebagai orang buta dan pengemis dipandang sebagai orang berdosa. Apa yang kemudian terjadi?

Pertemuan dengan Yesus mengubah hidup mereka secara mendalam (radikal). Mereka tidak hanya dilahirkan kembali, melainkan secara rohani menjadi manusia baru: mereka keluar dari ketakutan dan keterbatasan yang mengurungnya dan menjadi pewarta Yesus yang berani.

Wanita itu pergi ke kota dan menjumpai orang-orang yang selama ini dihindari dan mewartakan Yesus kepada mereka (Yohanes 4:29). Orang buta yang telah disembuhkan itu jauh lebih berani lagi. Dia menghadapi orang banyak dan orang Farisi yang menekan orang tua dan dirinya.

Di hadapan mereka, ia mengatakan bahwa Yesus itu nabi (Yohanes 9:17). Kemudian, ia mengakui bahwa Yesus itu berasal dari Allah (Yohanes 9:33). Akhirnya, ia percaya bahwa Yesus itu Putra Manusia, bahkan menyembah-Nya (Yohanes 9:38). Sebagai orang yang sebelumnya tersingkir, ia sama sekali tidak takut bersaksi tentang Yesus di hadapan orang Farisi yang sangat berwibawa di hadapan masyarakat.

Lalu, apa pesannya bagi kita? Kedua tokoh dalam perikop Injil Yohanes itu mengalami pertobatan secara bertahap. Setelah bertobat mereka tidak menyembunyikan imannya akan Yesus bagi diri sendiri, melainkan keluar dan membagikannya kepada orang lain.

Itulah yang terjadi dalam diri kita. Iman kepada Yesus itu bukan peristiwa sekali terjadi, melainkan proses bertahap. Kita perlu terus menerus berusaha mengenal dan mengimani Yesus secara lebih baik. Di samping itu, kita perlu membagikan iman kita kepada siapa saja. Mengapa? Karena iman itu tidak untuk disimpan, melainkan dibagikan. Apakah kita sungguh percaya kepada Yesus dan siap menjadi pewarta Yesus?

Tags:

No responses yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Latest Comments