Menjadi Tuan Rumah yang Ramah

Oleh Rev. Albertus Herwanta, O. Carm

Selama berabad-abad pelbagai suku dan bangsa telah menghidupi seremoni menyambut tamu secara ramah. Di samping menunjukkan perilaku manusia bermartabat, adat istiadat itu juga membawa banyak berkat, baik bagi sang tamu maupun tuan rumah.

Sabda Tuhan pada hari Minggu Biasa XVI C (Kejadian 18:1-10; Kolose 1:24-28; Lukas 10:38-42) berbicara tentang menyambut tamu. Abraham menyambut tiga pria yang lewat di dekat kemahnya dan menjamu mereka secara ramah serta menyajikan santapan lezat. Sebagai rasa terima kasih, sang tamu menjanjikan bahwa Abraham akan memiliki keturunan (Kejadian 18:10).

Injil Lukas menceritakan kisah tentang Marta dan Maria yang menyambut Yesus dalam rumahnya. Marta sibuk melayani Yesus. Barangkali dengan mempersiapkan masakan yang lezat dan meja makan yang tertata rapi dengan pelbagai santapan dan hiasan. Sedangkan Maria menyambut Yesus dengan duduk di dekat kaki Sang Tamu, khidmat menyimak yang dikatakan-Nya.

Ketika Marta mengeluh kepada Tuhan Yesus karena membiarkan dirinya melayani seorang diri, Tuhan Yesus bersabda, “Marta, Marta, engkau khawatir dan menyusahkan diri dengan banyak hal, tetapi hanya satu saja yang perlu. Maria telah memilih bagian terbaik, yang tidak akan diambil dari dia” (Lukas 10:41-42).

Ayat-ayat ini sering digunakan untuk mempertentangkan dua aktivitas dalam hidup beriman: sibuk melayani Tuhan dengan duduk dalam doa, mendengarkan. Namun Tuhan Yesus tidak mengabaikan yang Marta lakukan. Dia hanya mengingatkan bahwa hendaknya orang memusatkan diri pada Tuhan lebih daripada sibuk dengan urusan sendiri.

Bacaan pertama dan injil hari ini menegaskan bahwa setiap tindakan menyambut tamu membawa berkat bagi pelakunya. Ketika tamu yang datang adalah Tuhan, berkat-Nya akan turun atas sang tuan rumah. Lalu, apa yang dapat kita renungkan dari sabda Tuhan ini?

Pertama, kita perlu menunjukkan sikap ramah tamah, terbuka, dan murah hati terhadap para tamu. Kedua, memupuk kebiasaan itu meningkatkan keutamaan hidup Kristiani, terutama kasih dan sikap rendah hati. Menyambut tamu mengandalkan bahwa sang tuan rumah meletakkan sang tamu dalam posisi terhormat dan lebih tinggi. Ketiga, Tuhan memperhatikan mereka yang secara ramah menyambut kedatangan-Nya. Dia menganugerahkan sukacita dan hidup abadi bagi mereka yang menyambut-Nya.

Sesungguhnya, Tuhan senantiasa menjadi tamu kita. Ketika mendengarkan Sabda Tuhan dan menerima komuni, kita menyambut Tuhan Yesus sebagai tamu dalam hati kita. Saat kita melayani sesama, terutama kaum kecil dan miskin, kita melayani Tuhan Yesus sendiri. Dia bersabda, “Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetuk: jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku akan makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama Aku” (Wahyu 3:20). Apakah kita siap membuka pintu dan menjadi tuan rumah yang ramah?

Tags:

Comments are closed

Latest Comments