Rev. Albertus Herwanta, O. Carm
Hari pesta Keluarga Kudus Nazaret merupakan momen yang baik untuk merenungkan nilai dan fungsi keluarga. Kita dapat menggalinya dari sabda Tuhan yang dibacakan pada hari ini. Ketiga bacaan tersebut menggambarkan secara utuh tentang keluarga sebagai komunitas yang dikehendaki Allah.
Sirakh 3:2-6.12-14 mengajarkan tentang keluarga sebagai sekolah hormat dan bakti. Kitab ini menekankan relasi vertikal antara anak dan orang tua. Menghormati ayah dan ibu digambarkan sebagai tindakan yang memulihkan dosa, mengumpulkan harta, dan mendatangkan berkat panjang umur. Perintah untuk menolong orang tua di masa tua dan memaafkan kekurangannya menunjukkan bahwa penghormatan ini adalah tindakan luhur yang bersifat dinamis dan berkelanjutan dari generasi ke generasi.
Surat Santo Paulus, dalam Kolose 3:12-2, menegaskan keluarga sebagai komunitas yang dikuduskan oleh kasih. Surat tersebut menekankan relasi horizontal antar anggota keluarga yang disemangati oleh nilai-nilai Kristiani. Semua dimulai dengan mengenakan “belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, sikap lemah lembut dan kesabaran”, serta cinta kasih sebagai pengikat. Nasihat kepada istri, suami, anak, dan bapa (Kolose 3: 18-21) menunjukkan bahwa kekudusan keluarga lahir dari dipenuhinya peran setiap anggota dengan kasih dan tanggung jawab di dalam Tuhan.
Matius 2:13-15.19-23 mengingatkan kita akan keluarga sebagai mitra dalam rencana keselamatan Allah. Kisah pelarian Keluarga Kudus ke Mesir menunjukkan bahwa keluarga yang suci tidak bebas dari masalah, tetapi tampak dalam ketaatan dan penyerahan kepada kehendak Allah di tengah tantangan. Yusuf, dengan ketaatannya yang tulus dan sigap, menjadi pelindung dan pengambil keputusan yang bijaksana, membimbing keluarganya mengikuti bimbingan ilahi. Di sana tampak bahwa keluarga menjadi tempat Allah mewujudkan rencana-Nya.
Apa relevansi firman Tuhan hari ini bagi keluarga pada masa kini? Dalam dunia modern di mana keluarga menghadapi tantangan seperti kesibukan, distraksi teknologi, dan tekanan hidup, teladan dari bacaan-bacaan ini sangat relevan, terutama menyangkut tiga hal berikut.
Pertama, keluarga adalah tempat pertama kita belajar menghormati, mengasihi, dan taat. Dari Kitab Putra Sirakh kita belajar bakti; dari Kolose kita belajar relasi saling membangun; dan dari Matius kita belajar percaya bahwa Allah menyertai keluarga.
Kedua, kekudusan keluarga terwujud dalam kesetiaan menjalani hidup sehari-hari dalam cinta dan iman, seperti yang dilakukan Keluarga Kudus Nazaret yang sederhana dan bersahaja. Kehidupan keluarga dengan suka dukanya adalah sekolah iman, pengharapan, dan cinta kasih yang sebenarnya.
Ketiga, menjadikan Kristus sebagai pusat hidup keluarga adalah kunci menghadapi kompleksitas zaman. Sebagaimana damai sejahtera dan sabda Kristus menguasai hati (Kolose 3:15-16), keluarga diundang untuk menjadikan nilai-nilai Injil sebagai fondasi dan pedoman.
Semoga teladan Keluarga Kudus menginspirasi setiap keluarga untuk tumbuh dalam kekudusan, persatuan, dan ketabahan iman, menjadi tanda kasih Allah di tengah dunia. Bagaimanakah kehidupan keluarga kita selama ini? Apakah telah mencerminkan nilai Injil dan fungsi keluarga yang sejati?

Comments are closed