Uang: Antara Kejahatan dan Kesejahteraan

Oleh Rev. Albertus Herwanta, O. Carm

Siapa yang tidak mengenal perumpamaan tentang bendahara yang tidak jujur (Lukas 16:1-13)? Banyak yang bingung ketika mencoba memahaminya dan bertanya: mengapa Yesus memuji bendahara yang tidak jujur itu? Ada pula pertanyaan lain: bagaimana membaca perumpamaan itu dalam kaitan dengan bacaan pertama (Amos 8:4-7)? Ternyata, kontras antara keduanya memberikan pesan rohani yang kuat dan jelas untuk kita. Bagaimana kita menemukan hal itu?

Nabi Amos berbicara tentang orang kaya dan para pedagang yang jahat. Mereka itu tamak dan tidak sabar serta curang dalam berbisnis seperti menipu dengan mengubah timbangan dan memperkecil ukuran. Yang paling parah adalah menindas orang miskin dan membeli hukum. Tuhan murka terhadap sistem ekonomi yang mengorbankan manusia demi keuntungan materi. Tuhan tidak membiarkan dosa serius seperti ketamakan dan penindasan.

Injil Lukas menyampaikan perumpamaan yang membingungkan seolah-olah Yesus membenarkan ketidakjujuran. Yesus tidak memuji sikap tidak jujur dari bendahara itu, melainkan kecerdikannya. Dari sana Yesus mengajarkan pesan penting: “Anak-anak dunia ini lebih cerdik terhadap sesamanya daripada anak-anak terang” (Lukas 16:8). Yesus kemudian memberikan tiga prinsip utama.

Pertama, gunakanlah uang (mamon) untuk membangun relasi dan melakukan perbuatan baik yang berbuah hidup kekal. Misalnya, untuk pelayanan dan menolong orang miskin. Kedua, setia dalam perkara kecil itu penting. Integritas dalam mengelola uang adalah ukuran kesetiaan untuk perkara yang besar seperti berkat rohani dan mengelola harta dalam Kerajaan Allah. Ketiga, memilih salah satu secara benar dan bijaksana antara Allah dan uang. Kita tidak bisa mengabdi dua tuan. Pilihan kita menunjukkan siapa sesungguhnya yang kita sembah (Tuhan atau uang).

Membandingkan Amos dan Lukas, kita melihat kontras. Amos mengekspos motif tamak, penipuan, dan penindasan yang jahat demi keuntungan materi. Ini peringatan keras tentang apa yang dilarang dilakukan. Sedang Lukas menyampaikan solusi dan hikmat dalam menggunakan kekayaan. Yesus memberikan paradigma baru: uang (mamon) itu netral, tetapi amat berbahaya. Jangan sampai menyimpannya untuk diri sendiri; apalagi untuk menindas orang miskin. Kita mesti menggunakan uang untuk menolong orang lain dan membangun persekutuan.

Pesan rohani bacaan-bacaan hari ini jelas, yakni panggilan menjadi bendahara (pengelola) yang setia, melihat kekayaan dan sumber daya sebagai milik Allah yang dipinjamkan kepada kita untuk digunakan bersama demi kemuliaan Tuhan dan kesejahteraan umat manusia. Bukankah pesan ini amat mendalam dan penting bagi masyarakat kita? Bukankah kita sering menyaksikan orang menyalahgunakan uang dan kekuasaan untuk menindas dan menciptakan ketidakadilan? Semoga kita tidak termasuk di dalamnya. Marilah menggunakan semua anugerah Tuhan bagi kesejahteraan; bukan kejahatan.

Tags:

Comments are closed

Latest Comments