Sikap Taat Santo Yusuf dan Pelajarannya

Oleh Rev. Albertus Herwanta, O. Carm

Masa Adven mengundang kita untuk menantikan kedatangan Tuhan. Matius 1:18-24 menunjukkan bahwa ini bukanlah sikap yang pasif. Dalam sosok Yusuf, kita melihat teladan sempurna dari sikap mendengarkan dengan saksama dan kehendak yang aktif. Hal ini menunjukkan iman yang siap untuk mengambil bagian dalam karya Allah.

Dari Kebingungan Menuju Pengertian

Kisah Yusuf dimulai dengan krisis hati nurani. Ia menemukan tunangannya, Maria, sedang mengandung, dan seolah menghadapkannya pada kebingungan. Sebagai seorang “yang tulus hati,” Yusuf terbelah antara tuntutan hukum dan kasih yang penuh belas kasihan. Keputusan untuk diam-diam menceraikannya menunjukkan hatinya yang bijaksana dan sikap tenang di tengah kebingungannya.

Pada saat ia mengalami krisis itu, Allah turun dan campur tangan. Pesan malaikat itu menembus gejolak hatinya, membingkai ulang krisis tersebut dalam misi ilahi: anak itu “dari Roh Kudus.” Tindakan iman pertama Yusuf adalah mendengarkan dan memahami serta siap diubah secara radikal.

Kehendak Aktif dalam Ketaatan

Respons Yusuf adalah bagian penting dari perikop ini.Ia tidak berdebat, menunda, atau mencari konfirmasi tambahan. Setelah bangun tidur, “ia melakukan seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan kepadanya.” Ungkapan sederhana ini menyingkap kebenaran mendalam: mendengarkan yang sejati itu berujung pada tindakan. Kehendaknya secara aktif selaras dengan kehendak Allah yang dinyatakan. Ia membawa Maria ke rumahnya, menerima peran sebagai ayah sah, dan menamai anak itu Yesus. Dengan demikian, ia mengakuinya secara terbuka beserta misi penyelamatan-Nya.

Karena itu, ketaatan Yusuf menjadi kerangka pelindung bagi inkarnasi Yesus. Ia secara aktif mempersiapkan jalan bagi Mesias untuk masuk ke dalam dunia.

Apa relevansinya bagi Kehidupan kita?

Perjalanan Yusuf adalah gambar pemuridan kita, terutama selama Masa Adven ini. Apa yang dapat kita renungkan dan lakukan?

  1. Mendengarkan di tengah krisis: Seperti Yusuf, kita sering menghadapi situasi yang tidak sepenuhnya kita pahami. Adven mengajarkan kita untuk membawa kebingungan kita kepada Allah, mendengarkan suara-Nya dalam doa dan Kitab Suci, bahkan ketika hal itu menantang asumsi kita.
  2. Ketaatan sebagai sikap percaya yang aktif: Iman bukan sekadar setuju secara intelektual; ia adalah kehendak aktif untuk mengikut. Yusuf memberikan teladan bahwa percaya kepada Allah berarti melakukan apa yang Dia minta, bahkan ketika jalannya terasa aneh secara sosial atau berat secara pribadi. Artinya, memberi ruang bagi Kristus dalam kehidupan praktis kita.
  3. Mempersiapkan jalan: Adven adalah masa persiapan. Yusuf mempersiapkan rumah dan nama bagi Yesus. Kita dipanggil untuk mempersiapkan hati, relasi, dan hidup kita untuk menyambut dan mewujudkan kehadiran-Nya secara lebih penuh.

Dengan demikian, Yusuf berdiri sebagai santo Adven pertama. Kesetiaannya yang tenang namun tegas menjembatani janji para nabi dan kehadiran Sang Mesias. Ia mengingatkan kita bahwa kedatangan Allah ke dalam dunia sebagian bergantung pada pilihan kehendak kita untuk mendengarkan, mempercayai, dan bertindak. Allah yang memutuskan untuk menyelamatkan; dalam pelaksanaanya, manusia diajak untuk mengambil bagian di dalamnya. Apakah kita bersedia?

Tags:

Comments are closed

Latest Comments