Oleh Rev. Albertus Herwanta, O. Carm
Yeremia 20:10-13; Roma 5:12-15; Matius 10:26-33
Firman Tuhan pada hari ini berbicara tentang tantangan yang dihadapi nabi Yeremia dan murid-murid Yesus. Membacanya secara saksama dan merenungkannya, kita menemukan kemiripan bahwa keduanya mengandung pesan serupa.
Kitab Yeremia 20:10–13 menggambarkan kepedihan sang nabi saat ia mendengar bisikan “Ketakutan ada di mana-mana!” dari bekas sahabat-sahabatnya yang merencanakan kejatuhannya dan menunggunya tersandung. Dalam Matius 10:26–33, Yesus mempersiapkan murid-murid-Nya untuk menghadapi kenyataan serupa: mereka akan dihadapkan kepada penguasa dan raja-raja, bahkan dimusuhi oleh anggota keluarganya sendiri.
Yeremia menghadapi persekongkolan dan permusuhan dari orang-orang terdekat. Musuh-musuh Yeremia berkata, “Marilah kita mengadukan dia!” Tujuan mereka adalah menjeratnya dalam kesalahan. Demikian pula, Yesus memperingatkan pengikut-Nya bahwa “musuh orang ialah orang-orang seisi rumahnya” (Matius 10:36). Kedua perikop itu mengungkapkan bahwa iman itu bisa memicu perlawanan, bukan dari orang asing saja, melainkan dari mereka yang berada di dalam komunitas sendiri. Melayani Allah tidak selalu mendapat persetujuan manusia.
Selanjutnya, Firman Tuhan juga berbicara tentang rasa takut terhadap ancaman manusia, yang perlu dilawan dengan seruan tegas untuk percaya kepada Allah. Yeremia menyatakan, “Tuhan menyertai aku seperti pahlawan yang gagah perkasa,” sehingga para penganiayanya akan tersandung dan tidak akan menang. Yesus secara langsung memerintahkan, “Janganlah kamu takut terhadap mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa.” Dalam kedua teks, ketakutan dialihkan dari kekuasaan manusia kepada otoritas ilahi. Sang nabi dan para murid belajar bahwa bahaya duniawi yang terburuk hanyalah sementara; pembebasan terakhir dari Allah adalah pasti.
Kedua perikop beralih dari kepedihan pribadi menuju kesaksian di hadapan umum. Yeremia melantunkan pujian karena “Ia melepaskan nyawa orang miskin dari tangan orang-orang yang berbuat jahat.” Yesus berjanji bahwa apa yang dibisikkan dalam kegelapan akan diserukan dari atas atap. Iman itu bukanlah rahasia atau diam. Bahkan ketika ancaman membayangi, orang-orang beriman dipanggil untuk mengakui Allah secara terbuka. Kepercayaan akan pertolongan Allah mengarah pada pengakuan yang berani, mengubah ketakutan menjadi kesaksian.
Bagi kehidupan Kristiani saat ini, perikop-perikop ini menegaskan bahwa perlawanan terhadap iman adalah hal yang wajar, bukan tanda kegagalan. Entah melalui cemoohan di tempat kerja, penolakan keluarga, atau tekanan sosial, orang-orang beriman akan menghadapi momen-momen “takut di mana-mana.” Teladan Yeremia mengingatkan orang untuk tidak putus asa; sabda Yesus melarang sikap diam. Murid masa kini hendaknya memandang permusuhan sebagai konteks di mana kehadiran Allah yang seperti pahlawan yang gagah perkasa menjadi nyata.
Akhirnya, kedua teks menawarkan dukungan mendalam: Allah melihat setiap ancaman tersembunyi dan akan menegakkan keadilan. Yesus berjanji bahwa bahkan rambut di kepala pun terhitung, dan Yeremia mewartakan bahwa Tuhan “menguji orang benar.” Tidak ada rencana jahat yang tersembunyi, tidak ada pengakuan tulus yang dilupakan. Maka, pesannya dua: lawanlah ketakutan dengan memusatkan pandangan pada kuasa Allah dan sampaikanlah kebenaran dengan berani karena Bapa surgawimu sangat menghargaimu. Di tengah budaya yang kompromistis, kedua perikop ini memanggil umat Kristiani untuk setia, tak terbagi dan memiliki keberanian.

No responses yet