Oleh Rev. Albertus Herwanta, O. Carm
Matthew 13:1-23
Injil versi panjang yang kita baca pada hari ini memiliki makna dan pesan relevan. Ketika membaca, mendengarkan, dan merenungkannya secara mendalam, kita menemukan banyak pertanyaan tentang perumpamaan penabur itu. Ada dua hal yang diangkat dalam renungan ini, yakni ayat 9 dan 12-13. Keduanya berkaitan dan menjadi salah satu kunci dalam memahami perumpamaan ini.
Dalam Matius 13:9, Yesus menantang para pendengar-Nya. Setelah menceritakan perumpamaan tentang penabur, Ia bersabda, “Siapa yang bertelinga, hendaklah ia mendengar!” Ini bukan berarti mendengar secara fisik, karena semua orang yang hadir dapat mendengar suara-Nya. Lebih mendalam, ini berarti persepsi rohani—mendengar dengan hati, bukan hanya telinga. Perintah ini mendorong murid-murid bertanya mengapa Yesus berbicara dalam perumpamaan.
Yesus menjawabnya dalam ayat 12-13 dengan kebenaran yang mengejutkan: perumpamaan itu menyatakan sekaligus menyembunyikan. Mereka yang hatinya tanggap akan menerima pengertian yang lebih dalam. Tetapi mereka yang tidak tertarik akan kehilangan bahkan yang sedikit dari yang mereka miliki. Ini tidak tidak adil; namun ini adalah hukum rohani. Orang-orang yang tanggap mendapat lebih banyak pengertian, sementara orang-orang yang acuh tak acuh semakin bingung. Yesus menjelaskan bahwa Ia memakai perumpamaan karena banyak orang melihat tetapi tidak benar-benar melihat, dan mendengar tetapi tidak benar-benar mengerti (Yesaya 6:9-10).
Hubungan antara ayat 9 dan ayat 12-13 berbicara tentang tanggung jawab. Ayat 9 mengundang semua orang, tetapi ayat 12-13 menunjukkan bahwa undangan itu memiliki saringan. Perumpamaan bukanlah teka-teki bagi orang pintar, tetapi ujian bagi hati. Seorang pencari yang rendah hati menemukan harta dalam perumpamaan, sementara orang yang sombong hanya menemukan kebingungan. Yesus mengutip Yesaya untuk menunjukkan bahwa ini adalah penghakiman atas mereka yang telah menutup mata dan telinga mereka. Jadi ayat 9 adalah peringatan: pastikan bahwa kita benar-benar mendengar!
Perumpamaan dalam Matius 13:1-23 ini menunjukkan empat jenis tanah, yang mewakili empat tanggapan manusia terhadap firman Allah. Biji dan yang menabur sama, tetapi hasilnya berbeda karena berdasarkan keadaan tanah. Ini tentang keterbukaan manusia, bukan kegagalan Allah. Kerajaan Allah bertumbuh melalui karya firman yang tenang di dalam hati yang berbeda-beda.
Apabila menyatukan ayat 9, 12-13, dan seluruh perumpamaan, kita melihat alur yang jelas. Pertama, ayat 9 menyerukan agar kita mendengarkan secara aktif. Kedua, ayat 12-13 menjelaskan bahwa pendengaran seperti itu tidak otomatis—diberikan kepada mereka yang mencari dan disembunyikan dari mereka yang menolak. Ketiga, perumpamaan menggambarkan hal ini: jalan, tanah berbatu, dan semak duri semuanya menunjukkan jenis dari sikap tidak mendengarkan. Hanya tanah yang baik yang mewakili pendengaran sejati—pendengaran yang mengerti, bertahan, dan menghasilkan buah.
Perikop ini menegaskan bahwa setiap orang memiliki akses yang sama kepada kebenaran. Yesus tidak bersikap elitis dan mengakui kenyataan bahwa ada hati yang keras; tidak dapat memahami kebenaran ilahi. Namun ada pengharapan: tanah yang baik itu ada dan menghasilkan panen yang besar. Banyak orang menolak pesan itu, tetapi panen tetap melimpah. Kuncinya bukanlah berapa banyak benih yang ditaburkan, tetapi seberapa baik benih itu diterima.
Pelajaran praktisnya adalah bahwa memahami Kitab Suci membutuhkan sikap yang rendah hati dan taat, bukan sekadar kecerdasan. Kata-kata yang sama menerangi satu orang dan membingungkan bagi yang lain, karena hati mereka berbeda. Inilah sebabnya Yesus memakai perumpamaan—untuk mengundang para pencari dan menyingkapkan mereka yang lalai. Perikop ini meminta kita untuk memeriksa diri kita: Apakah kita benar-benar mendengar dan taat?
Sebagai kesimpulan, Matius 13:9 adalah kunci dan engsel dari seluruh perikop ini. Ayat itu memisahkan pendengar pasif dari murid-murid yang aktif. Ayat 12-13 menjelaskan mengapa seruan itu diperlukan, dan perumpamaan menunjukkan empat kemungkinan tanggapan. Yesus mengajarkan bahwa kerajaan dinyatakan kepada mereka yang rendah hati dan tersembunyi dari orang yang sombong. Buah hidup kita bergantung sepenuhnya pada bagaimana kita mendengarkan. Bagian ini meninggalkan pertanyaan penting: Maukah kita menjadi tanah yang subur atau manusia yang benar-benar mendengarkan?

No responses yet