Dipanggil untuk Hidup Kudus

Oleh Rev. Albertus Herwanta, O. Carm

Wahyu 7:2-4, 9-14; 1 Yohanes 3:1-3; Matius 5:1-12

Pada Hari Raya Semua Orang Kudus, Gereja merayakan persekutuan para kudus dan panggilan untuk hidup kudus. Sabda Tuhan menunjukkan bahwa kekudusan itu anugerah Allah sekaligus panggilan bagi kita. Kitab Wahyu pasal 7 menyajikan penglihatan tentang umat Allah. Surat 1 Yohanes pasal 3 mengungkapkan jati diri anak-anak Allah. Injil Matius pasal 5 menguraikan corak kehidupan dalam Kerajaan Allah. Ketiganya memberikan landasan bagi kehidupan yang kudus.

Wahyu 7:2–4 memperlihatkan peristiwa dimeteraikannya hamba-hamba Allah. Sebanyak 144.000 orang dimeteraikan sebelum malapetaka menimpa bumi. Angka ini melambangkan seluruh umat Allah yang dilindungi dan diakui sebagai milik-Nya. Itu merupakan tanda kasih karunia Allah yang menyatakan kepemilikan dan perlindungan-Nya. Kekudusan bermula dari status sebagai milik Allah.

Selanjutnya, Wahyu 7:9–14 menampilkan suatu kumpulan orang banyak dari segala bangsa. Mereka berdiri di hadapan takhta Allah seraya beribadah. Mereka telah membasuh jubah mereka dan membuatnya putih di dalam darah Anak Domba. Artinya, kekudusan mereka diperoleh melalui Kristus. Mereka menjadi orang kudus bukan karena kekuatan sendiri, melainkan berkat kemenangan Anak Domba (Yesus Kristus). Jubah putih mereka adalah anugerah kasih, dan ibadah mereka merupakan cerminan kehidupan surgawi.

Surat 1 Yohanes 3:1–3 menyatakan bahwa kita sudah menjadi anak-anak Allah. Inilah dasar dari hidup yang kudus. Kekudusan tampak dalam sikap menghidupi jati diri kita yang sesungguhnya di dalam Kristus. Dunia mungkin tidak mengenal kita, sama seperti dunia tidak mengenal Dia. Namun, jati diri kita jelas dan kuat karena bersandar pada kasih Allah.

Surat 1 Yohanes 3:2–3 mewartakan dimensi masa depan. Kita belum sepenuhnya mengetahui akan menjadi seperti apa kita kelak, tetapi kita tahu bahwa kita akan menjadi serupa dengan Dia. Setiap orang yang memiliki pengharapan ini akan menyucikan diri, sama seperti Dia adalah suci. Janji untuk melihat Kristus secara berhadapan muka membentuk cara kita hidup saat ini.

Matius 5:1–12 memuat Sabda Bahagia, sebuah gambaran tentang kehidupan dalam Kerajaan Allah. Mereka yang miskin di hadapan Allah, yang berdukacita, yang lemah lembut, yang murah hati, yang suci hatinya, dan yang membawa damai disebut berbahagia. Ini bukanlah daftar pencapaian, melainkan deskripsi kehidupan di bawah pemerintahan Allah. Sabda Bahagia menunjukkan bahwa kekudusan adalah suatu cara hidup, bukan sekadar status.

Bacaan-bacaan ini memberikan landasan bagi hidup yang kudus. Kitab Wahyu memperlihatkan tujuannya: sekumpulan orang yang telah ditebus sedang menyembah Allah. Surat 1 Yohanes mengungkapkan identitasnya: anak-anak Allah yang menaruh pengharapan kepada Kristus. Injil Matius menunjukkan jalannya: kehidupan yang dibentuk oleh Sabda Bahagia. Dengan demikian, kekudusan adalah anugerah, identitas, dan panggilan. Kekudusan bermula dari kasih karunia Allah, bertumbuh dalam pengharapan, dan berbuah dalam kasih.

Sabda Tuhan dalam liturgi hari ini mengingatkan kita bahwa hidup kudus itu bisa terwujud karena Allah sedang berkarya. Kita telah dimeteraikan, dihimpun, dan dipanggil. Saat ini kita adalah anak-anak Allah, dan kelak kita akan menjadi seperti Kristus. Para kudus di sekeliling takhta Allah bukanlah pahlawan yang jauh dari kita; mereka adalah keluarga kita. Ibadah mereka dan pengharapan kita memanggil kita untuk menjalani hidup yang kudus pada masa kini. Marilah menghayati anugerah dan panggilan ini.

Tags:

No responses yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Latest Comments