Mengasihi Allah dengan Segenap Hati, Akal Budi, dan Jiwa

Oleh Rev. Albertus Herwanta, O. Carm

Matius 22:34–40

Hari ini kita mendengar sabda Tuhan tentang hukum yang terpenting dalam kehidupan ini. Dalam Matius 22:34–40, Yesus memberikan perintah terbesar. Kasihilah Tuhan Allah dengan seluruh hati, seluruh jiwa, dan seluruh akal budi. Ia kemudian menambahkan perintah kedua yang serupa: Kasihilah sesamamu seperti mengasihi diri sendiri.

Sebagian dari kita mengalami bahwa mewujudkan perintah terbesar itu sangat sulit. Bukankah berulangkali kita gagal? Bahkan mungkin kita bertanya, apakah kita mampu melaksanakannya? Bagaimana kita dapat yakin akan hal itu? Marilah membaca dan memahaminya lebih dulu bersama para Bapa Gereja dan para kudus.

Mereka mengajarkan bahwa ketiga kemampuan (hati, jiwa, dan budi) itu bukanlah bagian-bagian yang terpisah dari diri kita. Ketiganya merupakan satu kesatuan untuk mewujudkan kasih secara terpadu.

Hati adalah pusat kehendak dan pilihan-pilihan terdalam kita. Santo Agustinus bertanya, apakah ukuran kasih yang Allah tuntut? Ia menjawab bahwa ukurannya adalah “dengan seluruh hatimu.” Tidak ada yang boleh disimpan untuk diri sendiri. Hati memberikan diri sepenuhnya kepada Allah.

Akal budi adalah daya rasional kita. Santo Thomas Aquinas mengajarkan bahwa daya ini “harus diberikan seutuhnya kepada Allah.” Kita mesti mengarahkan pikiran dan pemahaman kita kepada-Nya. Santo Yohanes Krisostomus mengajarkan bahwa kasih sejati kepada Allah tidak dapat dipisahkan dari kasih kepada sesama. Ia menulis, “Mengasihi Allah berarti mengasihi sesama.” Akal budi yang mengasihi Allah juga akan mencari kebaikan orang lain.

Jiwa adalah tempat bagi hasrat-hasrat kita. Santo Agustinus mengajarkan bahwa kasih ganda kepada Allah dan sesama adalah “tujuan akhir dari perintah itu.” Ketika diarahkan kepada Allah, jiwa itu secara alami menjangkau sesama di samping kita. Santo Bernardus dari Clairvaux merangkumnya dengan indah: “Ukuran mengasihi Allah adalah mengasihi tanpa ukuran.”

Ketiga kemampuan ini bekerja bersama. Hati memilih, akal budi memahami, dan jiwa menghendaki. Ketiganya mesti diberikan kepada Allah. Kemudian kasih yang sama itu mengalir keluar kepada sesama. Inilah seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi yang mesti menjadi misi terpenting hidup kita.

Allah telah memberikan kepada kita kemampuan hati, jiwa, dan akal budi itu. Sebenarnya, kita mampu menjalani perintah itu. Jika mengatakan bahwa kita tidak mampu, kita perlu bertanya, apakah kita memiliki iman akan Allah yang mampu menolong kita. Kita perlu terus berdoa agar Allah menolong dan menguatkan kita untuk melakukannya. Tuhan memberkati.

Tags:

No responses yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Latest Comments