Oleh Rev. Albertus Herwanta, O. Carm
Sirakh 27:30-28:9; Roma 14:7-9; Matius 18:21-25
Tema bacaan hari Minggu XXIV Tahun A ini kelanjutan dari tema Minggu lalu, yaitu kasih dan pengampunan. Injil Minggu lalu berbicara tentang bagaimana jemaat memandang dan memperlakukan orang berdosa.
Hari Minggu ini, Injil berbicara tentang berapa kali orang mesti mengampuni. Apakah ini semata-mata soal angka atau adakah nilai yang lebih dalam maknanya? Jawabannya bisa ditemukan dalam bacaan pertama.
Kitab Putera Sirakh menghubungkan pengampunan dengan dendam kesumat dan amarah. Pengampunan juga terkait dengan penyembuhan. Apakah orang yang menyimpan amarah berhak memohon kesembuhan? Bukankah banyak penyakit fisik seperti kanker bersumber dari sikap tidak mau mengampuni?
Pengampunan itu juga berkaitan dengan belas kasihan. Bolehkah orang yang tidak berbelas kasihan (tak mau mengampuni) memohon ampun atas dosanya? Bukankah Tuhan mengampuni karena belas kasihan-Nya?
Refrain Mazmur Tanggapan menyerukan, “Tuhan adalah pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia.” Tuhanlah sumber belas kasihan dan pengampunan. Dengan mengandalkan Tuhan kita akan mampu mengampuni.
Injil Matius menggambarkan belas kasihan Tuhan dan hati manusia yang kerap tidak berbelas kasih. Belas kasihan dan pengampunan-Nya tidak terbatas. Artinya, tidak bisa dihitung (tujuh puluh kali tujuh kali). Tuhan Yesus juga mengasihi dan mengampuni. Dia tidak menolak orang yang datang mohon ampun. Mereka yang suka menghitung-hitung dalam mengampuni perlu ingat akan hal ini.
Tuhan mengajar kita, “Perintah baru Kuberikan kepadamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi sama seperti Aku telah mengasihi kamu” (Yohanes 13:34). Ini amat berat, karena kita mesti mengasihi sampai mati bagi mereka yang kita kasihi, termasuk mereka yang tidak membalas kasih kita.
Mengasihi dan mengampuni itu dua bagian penting dari hidup Kristiani yang tidak terpisahkan satu sama lain. Mengaku diri orang Kristen tanpa siap mengasihi dan mengampuni adalah bohong besar. Sebaliknya, semakin orang mengampuni, semakin tampak jelas bahwa dia mengasihi.
Mereka yang menyimpan amarah dan dendam kesumat tidak bakal selamat. Sedang yang bersedia mengampuni sudah mulai merasakan surga di dunia ini. Jangan tergesa-gesa percaya akan renungan ini, silakan membuktikannya sendiri.

No responses yet