Hidup dalam Rahmat Tuhan

Oleh Rev. Albertus Herwanta, O. Carm

Yesaya 25:6-10; Filipi 4:12-14.19-20; Matius 22:1-14

Tiga bacaan pada hari Minggu XXVIII Tahun A ini amat kaya dengan pesan dan makna. Renungan pendek ini mengajak kita untuk memusatkan perhatian pada satu butir saja, yakni rahmat Tuhan. Bagaimana kita bisa menggalinya dan apa pesan yang relevan bagi kita?

Nabi Yesaya mewartakan kekayaan yang terkandung dalam rahmat Tuhan itu. Pertama, rahmat Tuhan itu melimpah dan mewah serta disediakan bagi semua bangsa (Yesaya 25:6). Tuhan tidak pernah kehabisan rahmat untuk dibagikan. Kedua, rahmat Tuhan itu membawa sukacita dan keselamatan. Ia mengoyakkan kain kabung dan meniadakan maut (Yesaya 25:7-8). Ketiga, kita menantikan Tuhan Allah yang penuh rahmat itu dan bersukacita karena Dia (Yesaya 25:9).

Santo Paulus lewat suratnya kepada jemaat di Filipi mengajar kita untuk bersikap terbuka dan hidup dalam iman akan Allah yang memenuhi segala keperluan. Itu tidak berarti bahwa kita akan selalu berada dalam keadaan tercukupi sesuai ukuran kita. Hendaknya kita belajar bersyukur, baik ketika berada dalam kekurangan maupun dalam kelimpahan. Tuhan Allah memelihara hidup kita menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus (Filipi 4:19).

Injil Matius mewartakan rahmat Tuhan dan sikap manusia dalam menerimanya. Senada dengan nabi Yesaya, Matius mewartakan bahwa rahmat Tuhan itu berlimpah, mewah, dan penuh sukacita. Itulah makna dalam pesta nikah yang Tuhan selenggarakan.

Tuhan menyediakan rahmat itu bagi banyak orang yang dipilihnya. Namun karena para undangan menolak datang, Tuhan mengundang siapa saja untuk masuk ke dalam pesta pernikahannya (Matius 22:9-10). Ruang perjamuan itu penuh. Artinya, rahmat Tuhan itu tidak boleh terbuang sia-sia.

Matius menambahkan satu unsur menarik dalam perumpamaan itu, yakni tamu yang masuk tanpa berpakaian pesta. Tuhan menegur tamu itu dan akhirnya membuangnya keluar dari ruang pesta ke dalam kegelapan (Matius 22:13). Apa maksudnya?

Rahmat Tuhan disediakan bagi semua orang tanpa membedakan siapa pun. Rahmat Tuhan itu gratis. Semua menerimanya tanpa membayar. Namun gratis tidak berarti murah dan boleh diterima sesuka hati tanpa sikap menghargai. Meski tidak perlu membayar, mereka yang menerimanya perlu menyediakan hati yang pantas.

Apa pesan praktisnya bagi kita? Pesta perjamuan yang melambangkan rahmat Tuhan yang berlimpah itu kita rayakan dalam perayaan Ekaristi. Di sana Tuhan menyediakan rahmat keselamatan dalam diri Yesus yang mengorbankan diri untuk keselamatan kita. Kita tidak perlu membayar. Bahkan ketika kita masih dalam keadaan berdosa, Tuhan memberikan Tuhan Yesus kepada kita.

Pertanyaannya, apakah kita menghadiri perayaan Ekaristi secara pantas, baik secara jasmani dan rohani? Apakah kita mengenakan pakaian yang layak dan hati yang bersih dari dosa waktu menghadiri misa dan menyambut komuni? Rahmat Tuhan memang gratis, cuma-cuma. Namun tidak pantas kita menyambutnya sesuka hati tanpa menjunjung tinggi dan menghargai. Marilah hidup dalam rahmat Tuhan secara pantas.

Tags:

No responses yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Latest Comments