Yesus, Sungguh Makanan dan Minuman

Oleh Rev. Albertus Herwanta, O. Carm

Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus mengajarkan kebenaran fundamental bagi para pengikut Kristus. Beriman kepada Yesus berarti menerima pewahyuan tentang diri-Nya sebagai Roti yang turun dari surga. Dia adalah Manna sejati yang diberikan Allah agar mereka yang memakan-Nya diselamatkan. Yesus dengan tegas menyatakan bahwa tubuh dan darah-Nya benar-benar makanan dan minuman yang memberikan kehidupan kekal (Yohanes 6:54-55). Bukan simbol!

Allah menghendaki ciptaan-Nya hidup (Ulangan 8:16a) dan untuk mencapai hidup kekal, Tuhan menyediakan santapan surgawi, yakni Yesus. Pada Perjamuan Malam Terakhir, Ia memberikan roti dan anggur, yakni tubuh dan darah-Nya yang secara sempurna dipersembahkan di kayu salib.

Hari raya ini sangat bermakna bagi umat Katolik. Merayakan Ekaristi tanpa iman akan kehadiran nyata tubuh dan darah Kristus adalah tindakan kosong, tanpa makna. Yang benar, warta dalam liturgi sabda diwujudkan dalam liturgi Ekaristi. Di sana kurban Kristus yang memberikan tubuh dan darah-Nya dihadirkan kembali. Gereja Katolik tidak hanya mendengarkan Yesus bersabda, melainkan juga menyambut-Nya sebagai sungguh makanan dan minuman.

Karena itu, menerima komuni berarti menyambut tubuh dan darah Kristus. Kita mesti menyambutnya dengan iman. Bagaimana caranya? Sebelum menerima Komuni Kudus umat mengucapkan “Amin”. Kata “Amin” berarti percaya bahwa yang kita sambut benar-benar tubuh dan darah Kristus.

Selain iman, sikap lahiriah lain juga penting. Umat perlu merayakan Ekaristi dengan berpakaian sopan. Perayaan Ekaristi adalah pesta perjamuan dengan Tuhan. Tidak pantas menghadiri pesta raja dengan pakaian sembarangan. Pakaian yang rapi dan hormat mencerminkan penghargaan kita akan kehadiran Tuhan yang maha kudus.

Akhirnya, setiap orang yang menerima tubuh dan darah Yesus dipanggil untuk menjadi seperti apa yang diterimanya. Artinya, kita diubah menjadi seperti Kristus (1 Korintus 10:16-17) atau “Alter Christus.” Konsekuensinya, kita wajib membagikan Yesus kepada mereka yang belum mengenal dan percaya kepada-Nya. Jadi,, Ekaristi bukan sekadar ritus, melainkan sumber dan puncak hidup Kristiani yang mengubah diri untuk berpartisipasi dalam misi Yesus.

Apakah kita menyambut komuni dengan iman yang mantap? Apakah kita merayakan Ekaristi dengan pakaian pantas dan rapi serta hati yang suci? Apakah kita telah menghayati misi, berbagi Yesus kepada mereka yang belum beriman Kristiani?

Tags:

No responses yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Latest Comments