HAK ALLAH

Oleh: Petter Sandjaya

Setiap kali saya melempar makanan untuk ayam-ayam peliharaan tercinta, selalu saja ayam Omega (istilah yang saya pakai untuk menyebut ayam yang selalu di-bully) diusir dan disingkirkan dari gerumunan makan bersama dari piring yang saya bagikan. Dengan cara mematuk kepala atau leher bagian atas, ayam Alfa menginginkan dominasi dan kekuasaan dari makanan untuk dinikmati oleh dia terlebih dahulu.
 
Untuk yang belum tahu, dalam kehidupan ayam tidak jauh berbeda dengan anjing. Terdapat hirarki yang harus disepakati diantara para ayam ketika tinggal bersama dalam satu komunitas peternakan. Hanya akan ada 1 ayam Alfa, beberapa ayam Beta, dan yang paling bawah yaitu ayam Omega. Ini bukan soal kekuatan fisik, ini tentang personaliti dan karakter dari hewan tersebut. Sama halnya seperti anjing, ayam Alfa pun tidak harus nampak paling besar, tapi paling berani dan siap melindungi komunitas.
 
Bagi ayam Alfa, mereka merasa dirinya berhak lebih dulu mendapatkan apa yang tuannya bagikan dengan cara menyingkirkan ayam-ayam Omega sesaat, seolah meminta respek dari mereka. Padahal kuasa itu sendiri sebenarnya ada di tangan si tuan yang memberi makan. Tapi saya mengakalinya, ayam-ayam Omega akan saya kasih terpisah dari piring ayam Alfa. Ketika ayam Alfa sudah asik dengan piring yang saya taruh, dia ga akan sadar kalau saya sedang member makan ayam Omega di waktu yang sama. Dengan begitu ayam Omega ga harus mengalami tekanan dan intimidasi hanya demi mengenyangkan tembolok.
 
Bacaan Injil kemarin menceritakan tentang Yesus yang berusaha dijebak oleh orang-orang Farisi dengan menanyakan: “Haruskah kita membayar pajak kepada Kaisar?”. Perikop ini menyampaikan tentang hak yang layak diterima oleh pihak yang telah memberikan sumbangsih. Namun bagi kebanyakan orang, sepertinya pajak malah menjadi sebuah beban yang ditanggungkan karena manfaatnya kurang terasa. Sama seperti ayam Alfa yang berpikir mereka layak mendapatkan makanan lebih dulu karena usahanya menjaga komunitas.

Sebagai manusia yang berakal budi, saya mencoba merenungi kondisi ini, muncul pertanyaan di benak saya: apa hak saya sehingga saya berhak mendapatkan berkat dari Tuhan? Apa sumbangsih saya? Menjaga komunitas? Berbuah kasih? Rasanya tidak.

Dulu doa makan saya begini: “Tuhan terimakasih atas rejeki ini. Berkatilah, semoga berguna bagi tubuh dan roh kami?”. Belakangan saya menyadari, bahwa pada awal mulanya semua ini kosong, tidak ada apa-apa, hanya Tuhan sendiri. Lalu dia mulai menciptakan apa yang menyenangkan hatiNya. Artinya, tubuh dan roh ini pun bukan punya saya. Sejak saat itu saya tidak pakai kata-kata itu lagi.

Tidak ada yang kita miliki, termasuk hidup ini. Lalu kenapa hidup kita sangat jauh dari menyenangkan diriNya? Padahal Dia berhak mendapatkan hakNya?

Tags:

No responses yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Latest Comments