Oleh Rev. Albertus Herwanta, O. Carm
Yesaya 55: 6-9 dan Matius 20:1-16
Bacaan Injil hari ini menyajikan perumpamaan tentang pemilik kebun anggur dan pekerjanya. Pemilik itu pagi-pagi pergi keluar mencari pekerja. Setelah mendapatkannya, dia keluar lagi beberapa kali dan bertemu tiga kelompok pekerja lain. Jam lima sore, dia keluar pula dan menyuruh sekelompok orang bekerja di kebunnya.
Waktu petang, dia membayar semua pekerja itu, mulai dari yang datang terakhir hingga yang mulai bekerja pagi hari. Semua dibayar sama, yakni satu dinar (setara upah sehari bekerja). Ketika kelompok pertama menerima upahnya, mereka mengeluh dan protes, karena diperlakukan sama dengan yang datang terakhir.
Jawaban sang pemilik amat menarik, “Bukankah kita telah sepakat satu dinar sehari? Ambillah bagianmu dan pergilah. Aku mau memberikan kepada orang yang masuk terakhir ini sama kepadamu. Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku? Atau iri hatikah engkau karena aku murah hati?”
Jawaban ini mengandung makna dan pesan tentang dua budaya, yakni budaya kasih dan budaya kuli. Sang pemilik kebun anggur (Tuhan) memberikan kasih tanpa syarat kepada semua orang. Kasih sejati itu tidak membeda-bedakan. Lebih dari itu, Tuhan memberikan atas dasar kasih-Nya; bukan karena prestasi manusia yang karenanya seakan-akan berhak menuntut.
Tuhan mengajar kita untuk menerima bagian kita yang telah Tuhan tentukan dan pergi. Artinya, kita perlu bersyukur atas semua yang Tuhan berikan dan bahagia menikmatinya. Tuhan itu adil sesuai dengan kehendak-Nya; bukan adil ukuran kita manusia. Tuhan memperlakukan semua manusia secara sama, yakni berdasarkan kasih-Nya.
Kasih Tuhan itu kerap bertemu dengan budaya kuli dari pekerja yang datang paling pagi. Mereka membandingkan diri dengan kelompok terakhir yang hanya bekerja satu jam. Kuli sering bekerja hanya berdasar upah dan bukan kasih. Di hadapan Tuhan kita tidak boleh hidup dan bekerja dengan mentalitas kuli yang puas dengan memperoleh upah.
Tuhan memperlakukan kita sebagai saudara (Matius 20:13); bukan sebagai kuli. Tuhan mencintai kita dan tidak mengupah kita. Pemberian dan kasih-Nya itu cuma-cuma; bukan gaji atau upah.
Dua budaya itu melambangkan relasi kita dengan Tuhan. Apakah selama ini kita membangun relasi kasih dengan-Nya dan mensyukuri anugerah-Nya? Ataukah kita selalu mengeluh terhadap-Nya? Apakah kita berdoa dan menghayati Ekaristi dalam rasa syukur di hati atau hanya untuk memperoleh upah dan memburu balasan dari Tuhan? Jangan sampai selama ini kita belum mengasih dan masih bermental kuli.

No responses yet