Oleh Rev. Albertus Herwanta, O. Carm
Yehezkiel 18:25-28; Filipi 2:1-11; Matius 21:28-32
Bacaan-bacaan pada hari Minggu ini mengajak kita untuk percaya dan bertobat. Keduanya sederhana namun penuh kuasa. Itu bukan kata-kata sekadar untuk didengar, melainkan diwujudkan dalam hidup. Tuhan Allah mengundang kita untuk percaya dan kepada-Nya. Pesan ini relevan bagi kehidupan kita masa kini. Kita bisa mengaku percaya, namun hidup kita mungkin tidak mencerminkannya. Kita menyebut diri sebagai orang Kristen, namun mungkin tidak bertobat. Injil menantang kita untuk menjadikan iman itu nyata.
Dalam bacaan pertama, Allah berfirman melalui Yehezkiel. Ia mengatakan bahwa orang fasik dapat berbalik dari dosa dan hidup. Allah tidak menghendaki seorangpun mati dalam dosa; Ia menghendaki semua orang kembali kepada-Nya. Ini adalah pesan pengharapan. Artinya, masa lalu kita tidak harus mengendalikan masa depan kita. Jika kita berpaling kepada Allah, Ia akan menerima kita. Kita tidak bisa hanya sekadar merasa menyesal; kita dituntut meninggalkan dosa-dosa.
Injil menceritakan kisah tentang dua orang anak laki-laki. Seorang ayah meminta mereka bekerja di kebun anggurnya. Anak pertama menolak, namun kemudian ia pergi bekerja. Anak kedua menyanggupi, namun ia tidak pergi. Yesus bertanya: manakah anak yang melakukan kehendak ayahnya? Jawabannya adalah anak pertama. Kemudian Yesus berbicara kepada para imam kepala dan tua-tua. Ia mengatakan bahwa para pemungut cukai dan pelacur mendahului mereka masuk ke dalam Kerajaan Allah. Mereka itu percaya kepada Yohanes Pembaptis dan bertobat. Tetapi para pemimpin agama itu tidak percaya ataupun bertobat. Mereka berkata “ya”, namun hati mereka jauh dari Allah.
Para pemungut cukai dan pelacur itu melambangkan orang-orang fasik dalam bacaan pertama. Para imam kepala dan tua-tua adalah orang-orang yang semula hidup benar namun berpaling dari kebenaran dan melakukan kejahatan. Mereka tidak percaya kepada Yohanes Pembaptis. Bahkan ketika melihat para pemungut cukai dan pelacur itu percaya serta bertobat, mereka sendiri tidak melakukannya. Oleh karena itu, mereka berisiko tidak masuk ke dalam Kerajaan Allah.
Jadi, iman dan pertobatan berjalan beriringan. Beriman berarti menaruh kepercayaan kepada Allah; menyerahkan hidup kita kepada-Nya. Itu lebih dari sekadar mengucapkan kata-kata; iman itu nyata dalam cara kita hidup. Bertobat berarti mengakui dosa-dosa kita dan kembali kepada Allah. Itu lebih dari sekadar penyesalan, melainkan perubahan yang nyata. Iman menuntun kepada pertobatan. Pertobatan memperdalam iman. Saat kita percaya kepada Allah, kita bersedia untuk bertobat. Saat kita bertobat, kita mengalami kerahiman Allah.
Bagaimana kita menanggapi hal ini hari ini? Pertama, kita perlu memeriksa hidup kita dan merenungkan di mana kita telah berkata “ya” kepada Allah namun belum menaati-Nya. Kita perlu mengakui dosa-dosa kita. Kedua, kita mesti bertobat dan mengaku dosa. Kita dapat memperbaiki kesalahan, mengampuni sesama, dan meninggalkan kebiasaan buruk. Ketiga, kita percaya dan yakin bahwa Allah itu Maharahim. Jalan Allah adalah yang terbaik. Mazmur Tanggapan mengatakan, “TUHAN itu baik dan benar; sebab itu Ia menunjukkan jalan kepada orang yang berdosa. Ia membimbing orang yang rendah hati menurut hukum, dan mengajarkan jalan-Nya kepada orang yang rendah hati.”
Pesannya jelas. Allah memanggil kita untuk percaya dan bertobat. Ia tidak menolak siapa pun yang kembali kepada-Nya. Namun, Ia memperingatkan kita agar tidak menjadi seperti anak yang kedua. Kita tidak hanya berkata “ya”, tetapi juga melakukan kehendak Bapa. Marilah kita memohon rahmat untuk berpaling dari dosa dan percaya kepada Allah. Marilah kita mewujudkan iman kita dalam tindakan nyata. Dengan demikian, kita akan ambil bagian dalam kehidupan Kerajaan Allah.

No responses yet